8.00 - 18.00 (+62) 812-919-67870

Sejarah

053633600_1543325410-selain-berani-dan-suci-ini-makna-lain-dari-warna-merah-putih-bendera-kita.jpg

Agustus 17, 20190

Bendera Merah Putih Amanat Rasulullah
Melalui Mimpi habib idrus salim aljufri

KH Adnan Anwar mengatakan bahwa konsepsi NKRI sudah disiapkan para ulama jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal ini dibuktikan dengan salah satu dokumen tahun 1783 hasil batsul masail di Masjid Baiturahman Aceh yang isinya jika Nusantara ini menjadi negara, maka namanya adalah Al Jumhuriyah Al Indonesia.

Saya sudah melacak berbagai dokumen dari Aceh sampai Pattani Thailand, bahkan ke perpustakaan di Berlin menemui Profesor Bastian bahwa nama Indonesia baru ditemukan oleh Barat tahun 1892. Padahal nama Indonesia sudah ada pada tahun 1783 dan dibentuk oleh ulama-ulama di Aceh,” ungkapnya.

KH Adnan Anwar juga menambahkan bahwa NKRI sudah sangat islami karena bangunan dan konsepsi NKRI banyak ulama terlibat di dalamnya. “Habib Idrus Salim Al Jufri, pendiri Al Khairaat di Kota Palu (Sulawesi Tengah) yang juga adik kelas Hadratus syeikh KH. Hasyim Asyari pernah mengatakan bahwa beliau pernah bermimpi Nabi Muhammad SAW dan pesan dalam mimpi itu adalah nanti kalau Indonesia merdeka benderanya adalah Merah Putih,” tambahnya.

Bahkan Muktamar NU tahun 1937 atas pesan Habib Idrus Salim Aljufri, Hadratus syeikh KH. Hasyim Asyari mengusulkan bahwa bendera Indonesia adalah Merah Putih dan Soekarno adalah pemimpinnya. “Ulama-ulama kita sangat cinta NKRI.

Hadratus syeikh KH. Hasyim Asyari sering menangis ketika menyanyikan Indonesia Raya. Bahkan, pencipta lagu Padamu Negeri adalah habib atau ulama. Makanya jika ada yang ingin mengganti Indonesia dengan negara Islam atau khilafah, maka sesungguhnya mereka tidak belajar sejarah dan mengingkari perjuangan dari ulama-ulama Nusantara,”

Berdasarkan catatan, habib atau keturunan Rasulullah yang menciptakan lagu nasional adalah Habib Haji Muntahar. Tokoh dengan nama lengkap Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar ini menciptakan beberapa lagu nasional, di antaranya, Hari Merdeka, Hymne Indonesiaku dan Dirgahayu Indonesiaku.

Selain habib, ada juga lagu-lagu kebangsaan yang diciptakan oleh para kiai dari kalangan pesantren. Seperti misalnya, KH. Wahab Chasbullah menciptakan lagu kebangsaan Syubbanul Wathon (pemuda cinta tanah air) atau yang terkenal dengan sebutan Yaa Lal Wathon. Atau juga KH. R. Asnawi Kudus yang melahirkan syi’ir kemerdekaan yang masyhur di kalangan santri Kudus.

Berdasarkan data-data tersebut, tentu sudah jelas bahwa NKRI sangat islami karena pengkonsepnya adalah para ulama. Oleh karena itu, mari kita syukuri keberadaan NKRI sebagai sebuah negara kesatuan yang menyatukan berbagai suku bangsa. Jangan sampai warisan para ulama ini kita rusak. Para ulama sudah mewariskan, saatnya kita melestarikan.


Screenshot_20190810-0604462.png

Agustus 10, 20190

Oleh : Kholili Kholil

“Wahai, Amirul Mukminin,” sapa seorang Yahudi kepada Umar bin Khattab, “Ada sebuah ayat dalam Alquran. Andai ayat itu diturunkan kepada kami (kaum Yahudi), pasti akan kami jadikan hari itu sebagai hari raya.”
“Ayat apakah itu?” tanya Umar.
“Al yauma akmaltu lakum dinakum.. (Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian..)”
“Kau benar. Hari itu sangat bersejarah .. aku masih ingat betul ayat itu diturunkan pada sore hari Arafah,” ujar Umar menerawang ingatan.
Percakapan yang diriwayatkan Ahmad bin Hanbal di atas adalah dialog antara Umar dengan seorang Yahudi yang kagum akan sebuah ayat di dalam Alquran: al-Maidah ayat 3—yakni ayat yang turun saat wukuf di Arafah. Arafah merujuk kepada nama hari, yakni tanggal sembilan Dzulhijjah. Sedangkan kataArafat, merujuk kepada nama tempat dilaksanakannya wukuf.
Baik Arafah maupun Arafat memang sangat fenomenal. Dua hal ini istimewa dalam Islam bukan hanya karena menjadi tempat dan waktu turunnya ‘ayat fikih’ terakhir di atas, namun juga karena tempat ini menjadi perhelatan sebuah ibadah “paling unik” dalam agama Islam: wukuf.
Bagaimana tidak unik, saat ibadah lain merepresentasikan kehambaan dengan cara bersujud, menahan lapar, atau menginfakkan harta, wukuf justru tidak diharuskan melakukan apapun kecuali berdiam diri di sekitar bukit granit yang berjarak dua puluh kilometer dari Mekkah. Berbeda dengan ritual lain, di sana seseorang tak diwajibkan melakukan apapun. Ia hanya harus duduk di situ. Makna wukuf, baik secara bahasa ataupun istilah, nyaris sama, berhenti atau diam.
Namun demikian, wukuf justru menjadi sentral ibadah haji. Sampai-sampai Nabi bersabda, “Wukuf adalah haji.” Hadis ini sama seperti hadis, “Taubat adalah penyesalan.” Artinya orang yang tidak menyesal tidak dikatakan bertaubat; orang yang tidak berwukuf maka hajinya tidak sah. Wukuf di Arafah adalah sesuatu yang penting.
Wukuf di Arafah ini juga adalah saat-saat keramat di mana Nabi saw menyampaikan orasi terkenalnya. Orasi itu dikenal dengan nama khuthbatul wada’: sebuah orasi perpisahan beliau. Orasi ini beliau sampaikan tepatnya dari atas Bukit Kasih Sayang (jabal rahmah).
Bukan hanya di masa Nabi Muhammad saja Arafat menjadi “keramat”. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa sejak masa bapak para nabi, yakni Ibrahim, Arafat sudah menjadi tempat istimewa. Di tempat ini Ibrahim diajari melaksanakan haji oleh Jibril. Saat diajari Jibril berhaji, Ibrahim berulang kali berkata: araftu .. araftu (aku paham .. aku paham). Jadilah tempat itu bernama Arafat.
Hari Arafah juga menjadi waktu di mana Ibrahim mengetahui kebenaran mimpinya. Di mimpi itu Ibrahim diperintahkan oleh Allah agar ia mengorbankan anaknya. Setelah ragu dan ‘mengangan-angan’, Ibrahim akhirnya yakin (arafa) bahwa perintah itu sungguh dari Tuhan.
Bahkan jika dirunut lebih jauh, tradisi oral dalam keilmuan Islam menyebut bahwa Arafat adalah tempat di mana Adam dan Hawa bertemu, tepatnya di Jabal Rahmah. Pertemuan ayah dan ibu umat manusia ini lantas diabadikan dalam nama arafat (perkenalan).
Sebenarnya jika dirunut secara bahasa, kata dasar ‘-r-f dalam buku-buku leksikografi (Lisanul Arab, misal) bermakna dasar sabar. Artinya tempat itu menjadi buah manis bagi kesabaran para nabi terdahulu (mulai dari pencarian Adam, pengorbanan Ibrahim, dan perjuangan Muhammad alaihimusholatu was salam).
Semua kisah para nabi di atas menunjukkan suatu pengorbanan yang menuntut mereka untuk sabar (arafa) dan Arafah selalu menjadi tempat balasan kesabaran mereka. Adam yang berpisah dengan Hawa—bertemu di Arafat. Ibrahim yang diuji mengorbankan anaknya—diganti kambing di Arafat. Perjuangan Nabi Muhammad saw yang melelahkan selama lebih dua puluh tahun—juga ditutup dengan ayat fikih terakhir di tempat itu.

 

 

 

 

 

KHOLILI KHOLIL

Alumni Pesantren Lirboyo-Kediri. Saat ini mengajar di Pesantren Cangaan Pasuruan, Jawa Timur.


Arafah.jpg

Agustus 10, 20190

Oleh : AHMAD GHAZALIE MASROERI

Pada mulanyanya Arafah merupakan nama bagi tempat yang letaknya berada di dekat kota Mekkah. Kini, kata Arafah bukan hanya identik dengan nama tempat melainkan juga menjadi nama bagi hari kesembilan bulan Dzulhijjah.

Kata Arafah bermakna keyakinan. Penamaan ini ada hubungannya dengan peristiwa nabi Ibrahim yang mendapatkan wahyu untuk menyembelih putranya melalui mimpi. Pada hari kesembilan pada bulan Dzulhijjah itulah nabi Ibrahim ‘yakin’ bahwa mimpinya benar.
Untuk mengabadikan peristiwa tersebut, yakni kejadian di saat hati nabi Ibrahim yakin atas mimpinya, maka hari kesembilan bulan Dzulhijjah dinamai dengan hari keyakinan atau hari Arafah.
Berikutnya, agar peristiwa keyakinan Nabi Ibrahim (dan putranya) tersebut menjadi motivasi bagi umat Islam, maka Allah Swt melalui Kanjeng Nabi Muhammad mensyariatkan beberapa hal berikut. Pertama, disunahkan bagi umat Islam untuk melaksanakan Puasa hari Arafah bukan puasa hari Wuquf.

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً، وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً

“Puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun; Setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang. Puasa Asyura menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Daud dari Abi Qotadah)
Karena puasa ini adalah puasa hari Arafah, maka pelaksanaannya tergantung hasil rukyah di negeri masing-masing tidak mengikuti waktu wukuf jamaah haji di Arafah. Sehingga ada kemungkinan perbedaan hari puasa Arafah antar negara sebab tidak semua negara mampu melihat hilal ketika rukyah awal bulan Dzulhijjah. Ini perlu digarisbawahi agar masyarakat Indonesia, dalam melaksanakan puasa arafah tidak mengikuti waktu wukufnya jamaah haji sebab patokannya dalah hasil rukyah.

Kedua, pelaksanaan wuquf sebagai rukun haji dinilai sah jika berada di padang Arafah.

الْحَجُّ عَرَفَةُ
“Haji sah apabila melakukan wuquf di Arafah.” (HR. An-Nasai dari Abdurrahman bin Ya’mar).
Dalam hal ini, bagi orang yang sedang berhaji tidak disunahkan melakukan puasa Arofah. Dari dua hal ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa puasa hari Arafah dan wukuf di padang Arafah merupakan dua hal yang berbeda. Sehingga tidak dapat dikatakan bahwa Puasa Hari Arafah adalah puasa hari wukuf karena keduanya bukanlah hal yang sama. (RM)

AHMAD GHAZALIE MASROERI
Ketua Lembaga Falakiyah PBNU

Sumber: https://alif.id/read/kh-ghozali-masruri/puasa-hari-arafah-bukan-puasa-hari-wukuf-b221946p/


KALIMANTAN TIMUR

INDONESIA

Jl. Mulawarman No. 1 RT.04 Desa Muara Wahau Kec.Muara Wahau. Kab. Kutai Timur
+6281-2919-67870

alkhairaatmuarawahau@gmail.com






LEBIH DEKAT

KEGIATAN KAMI

Terus Berkarya Untuk Bangsa.