8.00 - 18.00 (+62) 812-919-67870

Berita

Arafah.jpg

Agustus 10, 20190

Oleh : AHMAD GHAZALIE MASROERI

Pada mulanyanya Arafah merupakan nama bagi tempat yang letaknya berada di dekat kota Mekkah. Kini, kata Arafah bukan hanya identik dengan nama tempat melainkan juga menjadi nama bagi hari kesembilan bulan Dzulhijjah.

Kata Arafah bermakna keyakinan. Penamaan ini ada hubungannya dengan peristiwa nabi Ibrahim yang mendapatkan wahyu untuk menyembelih putranya melalui mimpi. Pada hari kesembilan pada bulan Dzulhijjah itulah nabi Ibrahim ‘yakin’ bahwa mimpinya benar.
Untuk mengabadikan peristiwa tersebut, yakni kejadian di saat hati nabi Ibrahim yakin atas mimpinya, maka hari kesembilan bulan Dzulhijjah dinamai dengan hari keyakinan atau hari Arafah.
Berikutnya, agar peristiwa keyakinan Nabi Ibrahim (dan putranya) tersebut menjadi motivasi bagi umat Islam, maka Allah Swt melalui Kanjeng Nabi Muhammad mensyariatkan beberapa hal berikut. Pertama, disunahkan bagi umat Islam untuk melaksanakan Puasa hari Arafah bukan puasa hari Wuquf.

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً، وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً

“Puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun; Setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang. Puasa Asyura menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Daud dari Abi Qotadah)
Karena puasa ini adalah puasa hari Arafah, maka pelaksanaannya tergantung hasil rukyah di negeri masing-masing tidak mengikuti waktu wukuf jamaah haji di Arafah. Sehingga ada kemungkinan perbedaan hari puasa Arafah antar negara sebab tidak semua negara mampu melihat hilal ketika rukyah awal bulan Dzulhijjah. Ini perlu digarisbawahi agar masyarakat Indonesia, dalam melaksanakan puasa arafah tidak mengikuti waktu wukufnya jamaah haji sebab patokannya dalah hasil rukyah.

Kedua, pelaksanaan wuquf sebagai rukun haji dinilai sah jika berada di padang Arafah.

الْحَجُّ عَرَفَةُ
“Haji sah apabila melakukan wuquf di Arafah.” (HR. An-Nasai dari Abdurrahman bin Ya’mar).
Dalam hal ini, bagi orang yang sedang berhaji tidak disunahkan melakukan puasa Arofah. Dari dua hal ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa puasa hari Arafah dan wukuf di padang Arafah merupakan dua hal yang berbeda. Sehingga tidak dapat dikatakan bahwa Puasa Hari Arafah adalah puasa hari wukuf karena keduanya bukanlah hal yang sama. (RM)

AHMAD GHAZALIE MASROERI
Ketua Lembaga Falakiyah PBNU

Sumber: https://alif.id/read/kh-ghozali-masruri/puasa-hari-arafah-bukan-puasa-hari-wukuf-b221946p/


IMG20190804114208-1-1280x604.jpg

Agustus 4, 20190

Budidaya tanaman hidroponik kini semakin banyak dilakukan orang, karena caranya yang amat mudah dan tidak memakan tempat, jenis tanaman yang dapat dikembangkan pun cukup bervariasi.

pesantren alkhairaat wahau Selain melakukan pendidikan keagamaan,juga membekali santri untuk budidaya tanaman hidroponik, Tanaman hidroponik ini di kelola oleh santri dibawah pengawasan dan pembinaan bapak aris.

 

Ustad hakim yang merupakan salah satu pembina di pesantren alkhairaat wahau mengatakan bahwa budidaya ini hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur pesantren dan green area di lingkungan pesantren saja, tapi tidak menutup kemungkinan kedepan bisa lebih memperbanyak variasi tanaman sehingga dapat memenuhi kebutuhan lebih banyak lagi.

hidroponik adalah jenis budidaya pertanian dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan sangat menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman terutama sayuran. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan menggunakan tanah pada umumnya.(NRM)


FB_IMG_1564384125385.jpg

Juli 29, 20190

Silaturahmi sekaligus penyaluran bantuan berupa beras sebanyak -/+ 160 Kg, dari LAZISNU dan LDNU Kecamatan Muara Wahau dan Kecamatan Kongbeng ke PonPes Alkhairaat.

pertemuan yang berlangsung di kantor Ponpes Alkhairaat ini banyak berbicara tentang keberlangsungan dan perkembangan pondok pesantren Alkhairaat yang bulan agustus mendatang genap satu tahun. selanjutnya, LAZISNU dan LDNU menawarkan beberapa program diantaranya bantuan mushaf al qur’an dan pengembangan skill santri.

sebagai pengurus tentu merasa bahagia atas kunjungan silaturahmi dan tawaran program tersebut.
disamping dalam rangka meningkatkan kemapuan dan skill santri,juga mempererat tali silaturahmi diantara sesama lembaga yang salah satu konsennya bergerak dalam bidang keagamaan dan pendidikan.


ALK-416-1.jpg

Juli 28, 20190

Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau lebih dikenal dengan Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau Guru Tua (lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman, 15 Maret 1892 – meninggal di Palu, Sulawesi Tengah, 22 Desember 1969 pada umur 77 tahun merupakan tokoh pejuang di Provinsi Sulawesi Tengah dalam bidang pendidikan agama Islam, sepanjang hidupnya, ulama yang akrab disapa Guru Tua ini dikenal sebagai sosok yang cinta ilmu. Tak hanya untuk diri sendiri, ilmu itu juga ia tularkan kepada orang lain. Salah satu wujud cintanya pada ilmu adalah didirikannya lembaga pendidikan Islam Alkhairaat sebagai sumbangsih nyata Guru Tua kepada agama islam. Alkhairaat dirikan di Palu, Sulawesi Tengah, kala usia Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri menginjak 41 tahun.

Habib Idrus dianggap sebagai inspirator terbentuknya sekolah di berbagai jenis dan tingkatan di Sulawesi Tengah yang dinaungi organisasi Alkhairaat, dan terus berkembang di kawasan timur Indonesia.

Pada tahun 2014, nama Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri juga diabadikan sebagai nama baru bandara Kota Palu dan Provinsi Sulawesi Tengah, sebelumnya, bandara kebanggaan Kota Palu bernama Bandara Mutiara atas pemberian dari presiden Soekarno, saat pertama kali dioperasikan 1954 dengan nama Bandara Masovu, namun kemudian berganti nama sejak 28 Februari 2014 setelah Menteri Perhubungan Evert Ernest Mangindaan membubuhkan tanda tangan di surat keputusan perubahan nama bandara Mutiara. Perubahan nama bandara itu juga untuk menghargai jasa serta perjuangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri dalam menyebarkan ajaran Islam di kawasan timur Indonesia. Disaksikan Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, dan pejabat Kementerian Perhubungan RI, para bupati/wali kota se-Sulawesi Tengah dan keluarga besar Alkhairaat meresmikan operasional serta mengukuhkan perubahan nama dari Bandara Mutiara Palu menjadi Bandara Mutiara SIS (Sayid Idrus bin Salim) Aljufri Palu.

Tanda Kehormatan
Masyarakat Kota Palu, khususnya suku Kaili, Walikota Palu dan Gubernur Sulawesi Tengah menginisiasi untuk mengangkat Habib Idrus bin Salim Aljufri sebagai Pahlawan Nasional. Longki Djanggola selaku Gubernur Sulawesi Tengah kemudian mengirimkan proposal pengusulan tersebut kepada Kementeriaan Sosial.
Usulan ini kemudian diteruskan oleh Menteri Sosial kepada Presiden Republik Indonesia yang diwakili oleh Dewan Gelar. Namun status kewarganegaraan Habib Idrus bin Salim Aljufri membuat beliau tidak dapat diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Berdasarkan Keppres 53/TK/2010, Habib Idrus pun mendapatkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana.
Bintang Mahaputra Adipradana, merupakan Tanda Kehormatan tertinggi setelah Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia. Bintang ini adalah Bintang Mahaputera Tingkat II. Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia dapat dianugerahkan kepada WNI dan WNA yang memenuhi persyaratan.


Silsilah
Sayid Idrus bin Salim bin Alwi bin Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Syaikhan bin Alwi bin Abdullah At-Tarisi bin Alwi Al-Khawasah bin Abubakar Aljufri Al-Husain Al-Hadhramiy yang mempunyai jalur keturunan dari Sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra Puteri Rasulullah SAW.

Para guru Habib Idrus bin Salim Aljufri
1. Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf,
2. Al-Habib Abdurrahman bin Alwi bin Umar Assegaf,
3. Al-Habib Muhammad bin Ibrahim bilfaqih,
4. Al-Habib Abdullah bin Husein bin Sholeh Al-Bahar,
5. Al-Habib ldrus bin Umar Al-Habsyi, dan
6. Al-Habib Abdullah bin Umar As-Syathiri di Rubath Tarim.

Diangkat sebagai Mufti dan Qadhi
Pada bulan Syawwal 1334 H bertepatan dengan tahun 1916, ayahnya wafat. Habib Idrus kemudian memimpin lembaga pendidikan yang didirikan oleh ayahandanya. Dan pada tahun itu pula Habib ldrus diangkat oleh Sultan Mansur sebagai Mufti dan Qadhi di kota Taris, Hadramaut, untuk menggantikan posisi ayahnya, padahal usianya saat itu baru 25 Tahun. Amanah dan pencapaian itu mengisyaratkan bahwa beliau adalah orang yang berilmu pengetahuan luas dan berwibawa. Walau jabatan sudah di tangan, Idrus muda tak pernah silau dengan keduniawian. Ia tetap kritis terhadap lingkungan sosial di negerinya. Bahkan, ia rela melepas jabatan mufti ketika memilih jalan menentang imperialisme Inggris. Sikap itu pula yang kemudian membawanya datang untuk kali kedua ke Indonesia. Perjalanannya yang kedua pada tahun 1922 terjadi akibat perjuangan politiknya untuk membebaskan negaranya dari penjajahan Inggris.

Hijrah ke Indonesia
Perjalanannya ke Indonesia yang pertama kali ketika beliau berumur kurang lebih 17 tahun. Habib salim membawa Habib ldrus berlayar ke Indonesia tepatnya di kota Manado untuk menemui ibunya Syarifah Nur AI-Jufri serta Habib Alwi dan Habib Syekh yang merupakan kedua saudara kandung Habib ldrus yang telah terlebih dahulu hijrah ke Indonesia. Setelah beberapa waktu di Indonesia, Habib ldrus dan ayahnya kembali ke Hadramaut. Setibanya di Hadramaut, Habib ldrus mengajar di Madrasah yang dipimpin oleh ayah beliau. Dan Kemudian menikah dengan Syarifah Bahiyah dan dikaruniai tiga orang putra dan putri, yaitu Habib Salim, Habib Muhammad dan Syarifah Raguan.

Semenjak tahun 1839 M Hadramaut berada dalam penjajahan lnggris. Beliau bersama sahabatnya Habib Abdurrahman bin Ubaidillah As-Saqqaf, keduanya merupakan tokoh agama dan wakil dari para ulama lain yang memelopori perjuangan kemerdekaan, mereka membenci penjajah dan sekutunya serta suasana kacau yang berkembang di Hadramaut khususnya wilayah Arab sebelah Utara secara keseluruhan. Keduanya bersepakat untuk menyalakan api perlawanan terhadap penjajah dan sekutunya dan mereka adalah orang yang pertama kali menghidupkan api tersebut.

Mereka berpendapat bahwa berhubungan dengan Negara-negara Arab yang merdeka dan dunia luar adalah sesuatu yang amat penting untuk mengubah keadaan di dalam negeri sekaligus memerdekakan negara secara total. Dengan mengemban tugas politik yang sangat berbahaya itu, Maka Habib Idrus menyusun suatu rencana untuk tujuan menjelaskan keadaan negerinya kepada masyarakat Arab dan dunia secara keseluruhan dengan cara keluar melalui pelabuhan Aden selanjutnya ke Yaman dan Mesir. Beliau menyadari risiko yang dapat mengancam jiwanya, karena intelijen negara dan mata-mata pemerintahan Inggris terus memperhatikan gerak-geriknya terhadap langkah yang akan ditempuh nya akan tetapi perjalanan itu harus dilakukan. Rencana dan segala perlengkapan yang telah disiapkan dengan tepat dan matang serta penuh kehati-hatian tersebut, hampir membuahkan hasil jika tidak dibocorkan rahasianya oleh pengkhianat yang mengambil kesempatan untuk keuntungan pribadi. Beliau di tangkap tiba-tiba setelah sampai di pelabuhan Aden, kemudian dokumen-dokumen yang ada padanya dirampas serta mendapat larangan dari pemerintahan Inggris untuk keluar dari pelabuhan Aden untuk tujuan ke Negeri Arab akan tetapi diizinkan untuk kembali ke Hadramaut atau pergi ke Asia Tenggara. Maka beliau memutuskan untuk pergi ke Indonesia, sedangkan sahabatnya, Sayid Abdurrahman bin Ubaidillah Assagaf memilih kembali ke Mekkah.

Pekalongan
Beliau masuk ke Indonesia dan menetap di Pekalongan untuk beberapa waktu lamanya dan menikah dengan pasangan hidupnya Syarifah Aminah binti Thalib Al-Jufri dan bersama menikmati pahit manisnya kehidupan. Ketika itu beliau berdagang kain batik tetapi tidak mendapat kemajuan karena cintanya kepada dunia pendidikan melebihi dari segala-galanya. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua anak perempuan, Syarifah Lulu’ dan Syarifah Nikmah. Syarifah Lulu’ kemudian menikah dengan Sayyid Segaf bin Syekh AI-Jufri, yang salah seorang anaknya adalah Dr. H. Salim Segaf Al-Jufri, Menteri Sosial Indonesia ke-26 dan Duta Besar RI untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kesultanan Oman Periode 2005-2009. Habib Idrus kemudian meninggalkan perdagangan dan beliau pindah ke Solo.

Solo
Di Solo, dengan dibantu oleh Sayid Ahmad bin Muhammad (mantan muridnya di Hadramaut) yang sudah lama mukim di Solo, mewujudkan niatnya untuk mendirikan madrasah yang diberi nama “Perguruan Arrabithah Alawiyah”. Beliau dilantik sebagai Guru dan Kepala Sekolah di Madrasah Rabithah Al-Alawiyyah. Setelah beberapa tahun beliau pindah ke Jombang dan tinggal beberapa lama di sana.

Jombang
Pada tahun 1926, beliau pindah ke kota Jombang. Habib Idrus berkenalan dengan beberapa tokoh Islam di antaranya K.H. Hasjim Asy’ari pendiri organisasi Nahdlatul ‘Ulama (NU) di Jombang yang juga pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng. Pertemuan kedua tokoh ini menjalin persahabatan yang sangat baik, karena keduanya sama-sama pimpinan agama, terutama karena keduanya mempunyai ikatan pemahaman yang sama yakni sebagai penganut paham Imam Syafi’I (ahli sunnah wal-jamaah).

Indonesia Timur
Kemudian beliau memulai perjalanannya ke Timur Indonesia untuk memberi petunjuk dan berdakwah di jalan Allah. Antara lain di Maluku dan menetap untuk beberapa bulan lamanya sambil melakukan lawatan dan dakwah bebeberapa wilayah kecamatan seperti Bacan, Jailolo, Morotai, Patani, Weda, Kayoa dan sebagainya, selanjutnya ke Sulawesi Utara, Sulawesi selatan, Kalimantan dan Irian Barat. Beliau kemudian berlayar menuju Manado, atas ajakan kakak beliau Habib Alwi bin Salim Aljufri yang berada di Manado.

Wani
Awal kedatangan Habib Idrus di Wani, Kota Palu, Sulawesi Tengah dalam rangka memenuhi panggilan dari kakak beliau, Sayyid Alwi bin Salim Aljufri, untuk mengajar di Wani pada tahun 1929 M.

Kehadiran Habib Idrus di Wani merupakan wujud dari keinginan masyarakat setempat yang ingin mengenal Islam lebih baik. Mereka pun bersama-sama mendirikan sebuah tempat yang digunakan untuk proses belajar-mengajar.

Madrasah pendidikan ini diberi nama Al-Hidayah yang mana memiliki kesamaan dengan madrasah yang telah dibangun oleh dua bersaudara, Habib Ali Alhabsyi dan Habib Abdollah Alhabsyi di Tojo Una-Una, Ampana.

Belanda mulanya memberikan izin pendirian madrasah Al-Hidayah namun ketika pecah pemberontakan Salumpaga di Toli-Toli, pihak Belanda kemudian menutup madrasah tersebut karena dianggap dapat mempengaruhi pemikiran rakyat. Bahkan beberapa murid Habib Idrus dituduh terlibat pemberontakan tersebut.

Buku yang menjadi sorotan Belanda pada waktu itu adalah kitab Izhatun Nasyi’in, karya Musthafa Al-Ghalayani.

Lembah Palu (Kota Palu)
Pada tahun 1930 M Habib Idrus pun pindah ke Kota Palu yang kala itu bernama “Celebes”. Kehadiran Habib Idrus di Kota Palu merupakan wujud dari keinginan masyarakat setempat yang ingin mengenal Islam lebih baik. Habib Idrus menggunakan ruangan Toko Haji Quraisy di Kampung Ujuna sebagai ruangan belajar mengajar dan kemudian pindah ke rumah Almarhum Haji Daeng Maroca di Kampung Baru (Depan Masjid Jami-Kampung Baru).

Rupanya di Palu inilah memberikan inspirasi yang kuat untuk tinggal dan menetap dalam rangka melakukan dakwahnya setelah menyaksikan keadaan masyarakat yang masih sangat terbelakang dalam pemahaman ajaran Islam.

Salah satu strategi yang digunakan agar cepat diterima masyarakat Palu, Sayid Idrus menerima saran dari beberapa tokoh masyarakat, Habib Idrus pun memutuskan untuk menikahi salah seorang bangsawan Puteri Kaili yang juga merupakan sosok perempuan yang sangat berperan dalam pengembangan Yayasan Alkhairaat Pusat. Dengan ketetapan hati dan petunjuk dari Allah SWT pada tahun 1931 M Habib Idrus pun menikahi Ince Ami Dg. Sute. Dari perkawinan ini beliau dikaruniai dua orang puteri, Syarifah Sidah Aljufri dan Syarifah Sa’diyah Aljufri.

Habib Idrus kemudian menikahkan kedua puterinya dengan dua orang murid kesayangannya yaitu, Habib Ali bin Husein Alhabsyi dinikahkan dengan Syarifah Sidah binti Idrus Aljufri dan Habib Idrus bin Husein Alhabsyi dinikahkan dengan Syarifah Sadiyah binti Idrus Aljufri.

Hj. Syarifah Sidah binti Idrus bin Salim Aljufri
Hj. Syarifah Sadiyah binti Idrus bin Salim Aljufri

Ampana (Kabupaten Tojo Una-Una)
Keberadaan para habaib di daerah-daerah di Sulawesi Tengah juga turut membantu perkembangan Madrasah Alkhairaat, salah satunya adalah keluarga Alhabsyi yang berada Ampana (Kabupaten Tojo Una-Una).

Ketika berada di Ampana Habib Idrus memutuskan untuk menikahi saudara dari kedua menantunya yaitu, Syarifah Haolah binti Husein Alhabsyi.

Pernikahan ini pun menjadikan status Habib Idrus sebagai besan dan menantu dari Habib Husein bin Ali Alhabsyi (ayah dari Habib Ali bin Husein Alhabsyi dan Habib Idrus bin Husein Alhabsyi).

Sebelum berdirinya Alkhairaat di Lembah Palu (Kota Palu), di Ampana telah berdiri madrasah pendidikan Islam yang bernama Al-Hidayah. Madrasah Al-Hidayah didirikan oleh Habib Abu Bakar Asshofi Alhabsyi dan berpusat di Makassar, yang kemudian diteruskan oleh kedua puteranya yaitu, Habib Ali Alhabsyi dan Habib Abdollah Alhabsyi.

Madrasah Al-Hidayah yang mempunyai puluhan cabang di wilayah Kabupaten Tojo Una-Una kemudian di wakafkan oleh Habib Ali Alhabsyi dan Habib Abdollah Alhabsyi kepada Habib Idrus untuk melebur menjadi madrasah Alkhairaat.

Toima (Kabupaten Banggai)
Perjalanan Habib Idrus dalam mengembangkan madrasah Alkhairaat kemudian berlanjut ke Kecamatan-Kecamatan, dan Desa-Desa di Kabupaten Banggai (Luwuk), Kabupaten Banggai Laut, Provinsi Gorontalo, Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara.

Di Toima, jauh sebelum kedatangan Habib Idrus di Sulawesi Tengah, telah datang Habib Husein bin Jafar Alhabsyi atau yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan julukan “Paisa Miring,” artinya “Batu Nisan Yang Miring.”

Habib Husein bin Jafar Alhabsyi sendiri adalah kakek mertua dari Habib Husein bin Ali Alhabsyi (mertua Habib Idrus atau ayah dari kedua menantunya).

Kedekatan Habib Idrus dengan keturunan Habib Husein bin Jafar Alhabsyi yang tersebar di Provinsi Sulawesi Tengah, Gorontalo, Manado, Maluku dan Maluku Utara, sangat membantu proses pengembangan madrasah Alkhairaat di Indonesia Timur.

Habib Idrus Wafat
Habib Idrus tidak meninggalkan karangan kitab, namun karya besarnya adalah AI-Khairaat dan murid-muridnya yang telah memberikan pengajaran serta pencerahan agama kepada umat. Mereka para murid-murid AI-Khairaat menyebar di seluruh kawasan Indonesia untuk meneruskan perjuangan sang Pendidik yang tak kenal putus asa ini. Salah satu murid beliau yang melanjutkan dakwahnya adalah Ustad Abdullah Awadh Abdun, yang hijrah dari kota Palu ke Kota Malang untuk berdakwah dan mendidik para muridnya dengan mendirikan pesantren Daarut Tauhid di Kota Malang.

Tahun 1968, Habib Idrus mengalami sakit parah, selama delapan bulan beliau meminum jus kurma. Walaupun dalam keadaan sakit, ia tetap menjalankan majelis mengajar setiap waktu. Masih dalam suasana ldul Fitri, sakit parah yang telah lama diderita Habib ldrus kembali kambuh. Bertambah hari sakitnya semakin berat. Maka, Guru, Ulama dan Sastrawan itu wafat, pada hari senin 12 Syawwal 1389 H betepatan dengan 22 Desember 1969 M. sebelum menjelang detik-detik kewafatannya, Habib Idrus sudah mewasiatkan tentang siapa saja yang memandikan jenazah, imam shalat jenazah, tempat pelaksanaan shalat jenazah, siapa yang menerima jenazah di liang lahat, muadzin di liang lahat, sampai yang membaca talqin di kubur.

Habib Idrus telah mempertaruhkan seluruh hidupnya dalam mengarungi perjalanan panjang dengan berbagai sarana ke kepulauan di sekitar Sulawesi dan Maluku untuk menyiarkan pengetahuan Islam. Beliau berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain menggunakan perahu sampan, gerobak sapi dan kendaraan lainnya bahkan dengan berjalan kaki dengan bermacam risiko, tantangan dan bahaya yang selalu mengancam di setiap saat. Akan tetapi Guru Tua selalu merasakan kenikmatan di antara pertaruhan jiwanya dan beliau rela memberikan apa saja meski jiwanya sekalipun. Ketabahannya dalam mengarungi pelayaran itu sampai berbulan-bulan lamanya. Dan kadang-kadang perjalanan itu ditempuh dengan berjalan kaki jika tidak mendapatkan alat-alat transportasi.

Hingga akhir hayatnya, Habib Idrus berhasil membangun 420 madrasah yang tersebar di seluruh wilayah Palu.

Sumber:
1. Wikipedia
2. Dg Siame, Norma, Hj (2012), “Perjuangan Sayid Idrus bin Salim Al-Jufri di Bidang Pendidikan Islam Sulawesi Tengah”
3. Pettalongi, Saggaf S. (2015). “Education Management Analysis of Sayid Idrus Bin Salim Aljufri to Develop Education Institutions (1930-1969) (Case Study on Education Institute Alkhairaat Palu-Indonesia)”
4. Nur, Minan (2016). “Pengembangan Dakwah AlKhairaat di Kota Palu” AlKhairaat Da’wah Development in Palu City.
5. Wawancara Syarifah Sadiyah Aljufri (Anak Habib Idrus bin Salim Aljufri)- ( Alkhairaat.sch.id)


IMG_3698-1280x853.jpg

Juli 23, 20190

Minggu,21 Juli 2019 Bertempat di halaman Pondok Pesantren Alkhairaat Muara Wahau Kutai Timur, Telah berlangsung pengukuhan pengurus yayasan ijtihadul khairaat priode 2019-2024. acara yang dihadiri wali santri, seluruh unsur masyarakat dan jajaran pemerintahan kecamatan dan desa muara wahau ini berlangsung dengan khidmat.

pengukuhan pengurus yayasan tersebut di rangkai dengan acara Tabligh akbar yang di isi oleh KH.Suhari Mustaji (pengasuh pondok pesantren Al Kholil Berau) dan silaturahmi wali santri dengan jajaran pengurus Ponpes dan Madrasah.
dalam sambutannya ketua yayasan terpilih Ust.Amar Sidiq menyampaikan, perlunya sinergitas dan kerjasama antara pengurus yayasan dengan seluruh komponen masyarakat dan pemerintah setempat dalam rangka mewujudkan cita-cita yayasan yang tertuang dalam tujuan dan visi misi yayasan.
dalam kesempatan yang sama kepala Desa Muara Wahau Sopiansah Ghazali menyampaikan,bahwa dirinya menyabut bahagia dengan keberadaan yayasan dan aktivitas pendidikan keagamaan di desanya dalam rangka mempersiapkan generasi penerus yang memiliki pondasi keberagamaan yang kokoh.

puncak acara tersebut di isi dengan nasihat keagamaan yang disampaikan oleh KH.Suhari Mustaji. dalam nasihatnya beliau menyampaikan, bahwa di era modernitas, pondok pesantren menjadi solusi paling tepat untuk mendidik dan membentuk karakter anak. kemajuan teknologi sekarang ini menjadi ancaman tersendiri bagi pendidikan anak-anak generasi penerus bangsa. “Perlu pendidikan yang benar-benar kompeten, Jangan salah pilih dengan pendidikan anak. Karena sekali salah, bisa celaka.
Apalagi pengaruh sosial saat ini sangat tinggi,pendidikan yang tepat untuk anak-anak masa kini itu pendidikan pondok pesantren. Di pondok anak-anak akan ditempa dan dibekali ilmu agama, ilmu umum dan aktivitas sehari-hari.
“Sekarang sudah banyak ponpes modern. Sistemnya mengacu pada pondok, tapi kualitas pendidikannya nomor satu. Meski di pondok, anak-anak akan dibekali pendidikan yang sama atau bahkan lebih dibandingkan sekolah-sekolah yang sudah ada pada umumnya,Di pondok semua aktivitas anak-anak terpantau. Mereka akan dipaksa bergaya hidup disiplin dalam beribadah atau dalam bentuk apapun, Mereka juga akan digembleng mentalnya untuk selalu cekatan. (Alkhairaat_NRM)



Juli 22, 20190

Pengukuhan pengurus Yayasan Ijtihadul Khairaat masa bhakti 2019-2024, dipimpin langsung oleh ketua Pembina Yayasan bapak Kamruzzaman. Agenda ini dirangkai dengan acara silaturrahim dengan para wali santri, dihadiri oleh seluruh pengurus yayasan yang berdomisili di sekitar Muara Wahau. Lebih dari dua ratusan undangan yang menghadiri prosesi pengukuhan pengurus yayasan tersebut tahun ini. Jajaran petinggi Muspika pun turut hadir, diantaranya Kapolsek Muara Wahau yang diwakili oleh AKP Sukoso. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh KH. Suhari Mustaji Pengasuh Pondok Pesantren Al Kholil Sambaliung Kabupaten Berau
Pengukuhan pengurus yayasan diawali dengan laporan panitia pelaksana acara bapak Ust. Muahammad Saleh. Dalam laporannya Ust.Muhammad Saleh menyampaikan berbagai perkembangan pendidikan baik tingkat Madrasah Diniyah Awwaliyah mapun ditingkat Pondok Pesantren Alkhairaat. Dalam kurun waktu satu tahun ini berbagai santri sudah mempunyai kemampuan menghafal Al Qur’an Juz 30 dan surah pilihan lainnya, sementara itu kemampuan dalam meminpin shalat berjamaah, tahlilan, maulid, muhadharah ( pidato), membaca wirid dan kegiatan lainnya sudah mampu mereka kuasai, tandasnya.
Agenda selanjutnya sambutan dari bapak Kepala Desa Muara Wahau,, dalam sambutannya . “ Kami sangat mendukung adanya kegiatan keagamaan di desa Muara Wahau, dan kami akan menyiapkan lahan untuk pembangunan Pondok Pesantren seluas 3 Hektar di areal kas Desa Muara Wahau “, tandasnya.
Ketua yayasan Ijtihadul khairaat periode 2019-2024 bapak Amar Shiddieq, S.Pd diberikan kesempatan untuk menyampaikan sambutannya. Dalam sambutan singkatnya disampaikan ayat Al Qur’an Surah An Nisa ayat 9 sebagai pijakan dalam menjalankan amanah bagi semua jajaran pengurus yang terpilih. “ Kita jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah dibelakang kita, mari kita jadikan momentum kepengurusan ini sebagai washilah sedekah jariah kita”. Tegasnya
KH. Suhari Mustaji Pengasuh Pondok Pesantren Al Kholil Sambaliung Kabupen Berau
Sebagai pembicara terakhir dalam acara ini, mengamanahkan kepada seluruh para hadirin agar memperhatikan keberadan pondok pesantren, “karena disana diajarkan ilmu agama, disana setiap hari ada kajian ilmu, disana ada salah satu taman dari taman-taman syurga, sambil mengutip hadits nabi. Masukkanlah anak-anakmu kepada pendidikan agama, karena itulah yang akan menjadi penerang bagi kalian, merekalah yang akan menuntun kalian ketika menghadapi pedihnya sakaratul maut” kata Ust Mustaji. (alkhairaat-UAS)


20190615083544_IMG_0035-1280x853.jpg

Juli 21, 20190

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan, Alkhairaat menjadi sumber kecermelangan masa depan bangsa, atas eksistensi, dan peran lembaga pendidikan tersebut yang dibawa oleh Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua).

“Alkhairaat adalah titipan Guru Tua untuk masa depan. Bicara Guru Tua, bukan hanya sebatas membicarakan masa lalu. Tetapi berbicara tentang masa depan,” ucap Anies Baswedan saat menyampaikan sambutan dalam Haul 51 Tahun Guru Tua di Palu, Sabtu (15/6/2019).

Mantan Menteri Pendidikan itu hadir dalam Haul Guru Tua dari Jumat (14/6/2019). Ia direncanakan balik ke Jakarta, Sabtu (15/6/2019) ini usai mengikuti Haul Guru Tua. “Saya bersyukur bisa hadiri haul ulama besar, Guru Tua,” sebut Anies.

Alkhairaat merupakan suatu lembaga pendidikan Islam dan ilmu umum, yang memiliki tingkatan pendidikan mulai dari jenjang anak usia dini hingga perguruan tinggi. Guru Tua menjadi pelopor utama keberadaan pendidikan tersebut. Hingga saat ini, Alkhairaat memiliki 600 madrasyah mulai dari tingkatan anak usia dini hingga SLTA.

Mengawali sambutannya di hadapan puluhan ribu umat Islam yang hadir, Anies menyebut di tempat berlangsungnya haul atau 51 tahun yang lalu, Guru Tua, roh dan jasadnya meninggalkan kita semua. “Akan tetapi, ajaran dan ilmu yang diajarkannya tidak meninggalkan kita,” ujar dia.

Karena itu, sebut dia, Alkhairaat jangan dipandang sebagai warisan masa lalu oleh Guru Tua, melainkan sebagai warisan masa depan. “Ketika saya membaca biografi perjalanan Guru Tua, ia adalah ulama besar yang luar biasa. Ia ulama yang memikirkan masa depan,” sebut dia.

Lembaga Pendidikan Alkhairaat, menurut Anies, adalah bukti bahwa Guru Tua memikirkan tentang masa depan. “Begitu bicara pendidikan Alkhairaat, maka Alkhairaat adalah masa depan. Bukan masa lalu,” ujar dia.

Alkhairaat memiliki peran dan fungsi yang sangat strategis. Karena itu, generasi Alkhairaat harus dapat memainkan peran dalam menghadapi tantangan dan kondisi perkembangan zaman.

Peran pendidikan oleh Alkhairaat yang sesuai dengan perkembangan zaman, menurut dia, harus di ikutkan dengan keterbukaan. “Keterbukaan dan luasnya wawasan menjadi ciri khas Allhairaat,” kata Anies. (Indopos.ant)


Sosialisasi-Bahaya.jpg

Juli 21, 20190

Pondok Pesantren Alkhairaat bekerjasama dengan Polsek Muara Wahau dan Poliklinik PT.Swakarsa, selenggarakan sosialisasi bahaya Narkoba dan pergaulan bebas. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh santriawan/i bertempat di ruang serbaguna Ponpes Alkhairaat pada Selasa,16 Juli 2019 di mulai sejak pukul 16.00 sd 17.45 WITA.

Dalam penyampaiannya Bpk.Adi dari Kepolisian dan dokter Sri dari Poliklinik, memaparkan dampak hukum, dampak kesehatan dan dampak sosial dari penyalah gunaan narkoba dan pergaulan bebas.

Selanjutnya para narasumber menyampaikan, bahwa maraknya penyalah gunaan narkoba dan pergaulan bebas dengan berbagai implikasi dan dampak negatifnya. Ini merupakan suatu masalah global yang mengancam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Berdasarkan permasalahan tersebut pembinaan hukum dan penyuluhan pendidikan kesehatan di kalangan remaja perlu dilakukan agar remaja dapat lebih mengerti dan memiliki daya tangkal terhadap pengaruh negatif.

Setelah kegiatan ini peserta mengenali dampak hukum,dampak kesehatan dan dampak sosial serta dampak negatif lain akibat penyalahgunaan Narkoba maupun perilaku pergaulan bebas di kalangan remaja. Harapannya mereka mampu secara mandiri menjauhi dan menghindari hal tersebut.

Rekomendasi kegiatan ini adalah perlunya penyuluhan dilaksanakan secara berkala, terprogram, dan berkesinambungan, khususnya sehingga kesadaran dan daya tangkal santri terhadap penyalahgunaan Narkoba dan perilaku pergaulan bebas dapat lebih ditingkatkan.


kementerian-agama-9.png

Juni 15, 20190

Kementerian Agama berkomitmen untuk memajukan pendidikan di seluruh Indonesia, termasuk di Bumi Bunda Tanah Melayu, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Hal ini disampaikan Kepala Kankemenag Lingga M. Nasir kepada CPNS Kankemenag Lingga, di Lingga.

Kepada CPNS Baru Kankemenag Lingga, khususnya tenaga guru, M. Nasir menitipkan harapan kemajuan pendidikan di Bumi Bunda Tanah Melayu. “Mari kita majukan pendidikan di madrasah kita. Tantangan pendidikan ke depan sangat berat. Saudara semua dituntut bukan hanya mengajar tapi juga mendidik,” kata M. Nasir, Senin (10/06).

M. Nasir menuturkan, ada empat hal yang harus dikuasai oleh guru profesional guna meningkatkan mutu pendidikan di madrasah, khususnya di Kabupaten Lingga. Pertama, perbanyak literatur. Guru harus memiliki banyak literatur. Semakin banyak literatur yang dimiliki, maka akan semakin banyak bahan pembanding.

“Tidak cukup buku pegangan yang ada di sekolah saja. Tapi harus mencari dan menambah sumber buku lainnya. Sehingga nanti akan menambah pengetahuan dan memperkaya ilmu yang sudah ada,” pesannya.

Kedua, guru profesional harus menguasai metodologi. Menurut Nasir, saat ini banyak metodologi dalam memberikan materi dan tindakan di kelas. “Pelajari dan pahami metode dalam mendidik yang baik. Sajikan materi dengan teknik yang menyenangkan sehingga siswa merasa nyaman dan mudah menerima pelajaran,” tambah M. Nasir.

Selanjutnya, M. Nasir menuturkan hal ketiga yang harus dikuasai guru profesional adalah teknologi. Guru juga perlu berhati-hati dengan teknologi. “Teknologi bisa memudahkan tapi bisa juga menjerumuskan. Tergantung kita memandang dan memanfaatkannya. Kita yang harus mengendalikannya. Jangan sampai kita yang dikendalikan teknologi,” ujarnya.

Perangkat teknologi diharapkan M. Nasir dapat memudahkan para guru untuk menyelesaikan pekerjaan. Misalnya, untuk membuat WhatsApp (WA) Grup antara orang tua murid dan guru guna memberikan informasi terkait perkembangan peserta didik.

“Guru menyampaikan hasil pantauan siswa selama sekolah, sedangkan orang tua melaporkan aktivitas anaknya di rumah kepada guru melalui saluran teknologi WA grup tadi,” jelasnya.

Hal keempat yang harus dilakukan guru adalah mengamalkan ilmu yang diajarkannya. “Dengan memahami dan menguasai keempat hal di atas dapat dipastikan rekan guru akan menjadi guru profesional di era milenial dalam pembentukan akhlak dan moral anak bangsa. Guru akan menjadi inspirator bagi rekan ASN lainnya. Semoga akan lahir guru-guru hebat dari Madrasah,” tutup M. Nasir. (kemenag.go.id)


Habib-Saggaf.jpeg

Mei 25, 20190

Organisasi keagamaan di Palu, Sulawesi Tengah, Al Khairaat sedang mengadakan Haul Emas Guru Tua ke-50, (30/06/2018). Kapolri Jendral Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto ikut serta dalam acara itu dengan mengenakan peci putih.

Untuk informasi, Guru Tua merupakan sebutan bagi Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri. Dia lebih dikenal dengan Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri yang merupakan tokoh pejuang pendidikan Islam di Sulawesi Tengah. Dia mendirikan Al Khairaat di Palu pada 1930.

Haul Emas Guru Tua itu dibuka oleh Ketua Umum Al-Khairaat Habib Saggaf bin Muhammad Al-Jufri. Saat membuka acara itu, dia berpesan untuk tidak merasa menjadi orang atau kelompok yang paling benar. Termasuk, tidak mudah untuk menyalahkan kelompok lain.

Perbedaan keyakinan memang sering kali menjadi masalah yang memicu konflik. Itulah kenapa, organisasi keagamaan terbesar di Indonesia Timur tersebut terus mengajarkan untuk menahan diri dari sikap merasa paling benar.  Apalagi, sampai menyudutkan kelompok agama lain.

”Selama masih di dunia, seharusnya tidak boleh ada yang merasa paling benar. Bahkan, bisa jadi belum tentu benar,” ujarnya.

Itulah kenapa, Habib Saggaf meminta agar jangan dengan mudah menyalahkan pihak lain. Menurutnya, pernyataan merasa paling benar hanya bisa dilontarkan saat nanti sudah berada di akhirat.

”Saat di akhirat, barulah kita baru bisa mengatakan dengan terang-terangan bahwa kita lebih benar, lebih unggul. Namun, tidak selama masih menginjak tanah,” tuturnya.

Al Khairaat juga meyakini sebagai kelompok yang benar. Namun, bukan berarti keyakinan itu menjadi landasan untuk menyalahkan orang lain. ”Kami mengetahui selama ini ada kelompok yang selalu merasa paling benar, selalu menyalahkan. Namun, semua itu belum terbukti,” ujarnya.

Menurutnya, untuk mencapai pada kebenaran itu kuncinya adalah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, bisa membuat orang untuk mampu menyikapi segala sesuatunya dengan benar.

”Bukan hanya ilmu agama. Nabi Muhammad dalam hadisnya pernah menyebut kejarlah ilmu hingga ke negeri Tiongkok. Saya kira itu bukan ilmu agama, namun ilmu keduniaan. Saat itu Tiongkok merupakan negeri yang ilmu pengetahuannya telah tersohor hingga ke Arab,” ujarnya.

Sementara Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menghadiri Haul Emas tersebut mengakui peran ajaran Al-Khairaat di masyarakat. Menurutnya, ajaran Guru Tua dari pendiri Al-Khairaat memiliki keteladanan toleransi yang begitu kuat.

Indonesia yang beragam suku bangsa dan agama ini memerlukan ajaran semacam itu. ”Keberagaman itu tidak hanya memiliki keuntungan, seperti kemajuan dan pembangunan, tapi juga memiliki kerawanan. Yakni potensi konflik,” jelasnya. (Jawapos)


KALIMANTAN TIMUR

INDONESIA

Jl. Mulawarman No. 1 RT.04 Desa Muara Wahau Kec.Muara Wahau. Kab. Kutai Timur
+6281-2919-67870

alkhairaatmuarawahau@gmail.com






LEBIH DEKAT

KEGIATAN KAMI

Terus Berkarya Untuk Bangsa.