8.00 - 18.00 (+62) 812-919-67870

Berita

IMG_20210918_160838.jpg

September 18, 20210

Muara Wahau,Sabtu (18/09/21)
Telah dilaksanakan penyaluran bantuan berupa uang sebesar sepuluh juta rupiah yang dihimpun oleh KOMPAS (komunitas Karyawan Peduli Sesama) kepada Pondok Pesantren Alkhairaat Muara Wahau.

Komunitas yang beranggotakan karyawan perusahaan PT. DSN Group ini konsen dalam kegiatan sosial.

“Diharapkan bantuan ini dapat membantu operasioanal dan kebutuhan Pondok Pesantren, juga harapan kami bantuan ini dapat berlanjut setiap bulannya”,ujar Bapak Mulyadi selaku Penanggung jawab KOMPAS”.

Bantuan yang didistribusikan melalui KOMPAS ini mendapatkan sambutan hangat dari para ustad pondok pesantren. Karena pada saat ini sedang berlangsung proses pembangunan asrama putri yang kemudian bantuan tersebut juga bisa dipergunakan menyelesaikan proses pembangunan.


IMG-20200512-WA0032-1280x960.jpg

Juni 4, 20200

Alkhairaat Wahau

Masa pandemi Covid-19 telah mengubah beragam aktivitas masyarakat yang lazim dilakukan sebelum pandemi. Begitu juga di lingkungan pesantren. Berbagai proses pembelajaran harus dilakukan dari jarak jauh karena pesantren ‘terpaksa’ harus memulangkan para santrinya.

Di Pondok Pesantren Alkhairaat, Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur, misalnya, terhitung kurang lebih sudah satu bulan lebih para santri telah dipulangkan. Hal ini dilakukan pesantren karena ada kekhawatiran akan wabah Covid-19 kian meluas hingga merambah ke pesantren.

Namun, di balik libur panjang santri, sesungguhnya mereka sudah rindu akan aktivitas-aktivitas di pesantrennya. mereka ingin segera bisa kembali ke pesantren bertemu dengan pengasuh, ustaz, teman-temannya, dan mengikuti kegiatan-kegiatan pesantren seperti ngaji, sekolah, dan seterusnya.

“Kami rindu ingin kembali ke pondok, sangat ingin berkumpul kembali dengan teman-teman santri ngaji dan belajar bareng,” kata salah seorang santri, Fathur kepada kami.

Santri asal Muara Wahau, ini adalah salah satu santri sekaligus pengurus pondok yang bertugas melayani para santri. Karena itu, selama di pondok ia lebih banyak berinteraksi langsung dengan para santri. Misalnya menyampaikan amanah pengasuh untuk kemudian disampaikan kepada santri, mengkoordinir santri saat tiba jadwal mengaji, dan sebagainya.

“Di sisi lain saya sebagai anak ndalem dan pengurus pondok yang terbiasa melayani anak-anak santri rindu akan candaan dan kebersamaannya,” ujar Fathur sapaan akrabnya.   Selama di rumah, ia mengaku waktunya banyak digunakan untuk membaca buku, ngaji Al-Qur’an, dan membantu orang tua. Ia berupaya memanfaatkan waktu liburnya dengan sebaik mungkin. “Kegiatan sehari-hari saya biasannya membantu orang tua baik dari nyuci baju bersih-bersih, nderes buku dan Al-Qur’an,” ucapnya.

Sementara itu, Pengurus Pesantren Muhammad Nuri, Syafiuddin mengemukakan, pihak pesantren belakangan ini sudah mengeluarkan surat edaran (SE) terkait waktu kembalinya santri ke pondok. Prinsipnya, kata dia, santri harus dipastikan bebas dari Covid-19 sebelum kembali ke pesantren.   “Menurut edarannya tanggal 10 Juni kembali dan tanggal 11 Juni memulai ajaran baru,” tuturnya.


IMG-20191123-WA0119-1280x588.jpg

November 24, 20190

Muara Wahau, sabtu 23 November 2019

Gemuruh untaian sholawat dan pujian di malam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H. yang diselenggarkan oleh Masjid Al Ijtihad dihadiri oleh tokoh agama,tokoh adat,tokoh pemuda, KAPOLSEK, Kepala Desa dan seluruh masyarakat Muara Wahau.

kegiatan yang di awali dengan pembacaan maulid simthud duror dan untaian sholawat yang dipimpin oleh tim hadroh Pondok Pesantren Alkhairaat Muara Wahau, melengkapi kemeriahan kegiatan tersebut.

dalam kesempatan tersebut ketua panitia sekaligus imam masjid Ust.Amar Sidiq menyampaikan dalam sambutannya,” agar senantiasa bersholawat kepada baginda rosul Muhammad SAW, dan implementasi bentuk kecintaan kita terhadap nabi Muhammad SAW salah satunya dengan cara menerapkan prilakunya dalam kehidupan sosial bermasyarakat agar terciptanya masyarakat yang madani.

puncak acara diisi dengan tausiyah hikmah maulid nabi Muhammad SAW, yang disampaikan oleh KH.Abdus Syukur Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Tenggarong-Kutai Kartanegara.

Dalam tausyiahnya menyampaikan,” bahwa kondisi masyarakat arab sebelum diutusnya nabi Muhammad SAW dalam kondisi jahiliyyah, jaman tersebut merupakan jaman yang tidak memiliki akhlak dan peradaban. maka setelah di utusnya nabi Muhammad SAW masyarakat arab menjadi masyarakat yang memiliki peradaban dan penghargaan terhadap sesama, itu karenanya nabi muhammad SAW di utus oleh alloh SWT selain untuk menyampaikan risalah dan penyempurna agama,juga untuk memperbaiki akhlak manusia dan menebar rahmat dan kasih sayang bagi semesta alam”. juga beliau menekankan kepada jama’ah, agar menjadi pribadi yang selalu memberikan rahmat dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga maupun lingkungan masyarakatnya.

“NRM_Khodimul Ma’had Alkhairaat”


IMG-20190901-WA0054-1280x960.jpg

September 2, 20190

Muara Wahau_ sabtu, 31 Agustus 2019

Sudah menjadi budaya seluruh penjuru Indonesia, saat memasuki 1 muharram diselenggarakan pengajian ataupun kegiatan lainnya dengan tujuan mengambil hikmah dan momentun meng evaluasi diri terhadap apa yang telah dilakukan satu tahun kebelakang sambil menata niat untuk mengarungi kehidupan yang lebih baik di tahun yang akan datang.

Pemuda-pemudi Desa Muara Wahau yang terhimpun dalam Generasi Wahau bekerjasama dengan DKM Musholla As-Syifa selenggarakan pengajian 1 Muharram 1441 Hijriyah”.

kegaiatan yang berlangsung sejak pukul 20.00 hingga 22.00 ini di hadiri oleh masyarakat dan pemuda/i desa muara wahau.

Rangkaian acara dibuka oleh tim hadroh Pondok Pesantren AlKhairaat Desa Muara Wahau dan dilanjut sambutan oleh ketua panitia, serta ketua Generasi Wahau dan disusul oleh sambutan ketua Mushalla As-Syifa.

puncak kegiatan di isi dengan tausiyah oleh Ust. Amar Siddiq dan ditutup dengan Doa oleh Ust. Nizar, dalam tausiyahnya ustadz amar menyampaikan ” kegiatan peringatan 1 muharram Ini merupakan kali pertama yang dilaksanakan di Desa Muara Wahau selama 20 tahun lebih saya berdomisili disini, Beliau sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini, karena masih muda sudah memikirkan umat dan turut serta mempersiapkan generasi muda mendatang yang memilki karakter berakhlak mulia dan peduli terhadap perjuangan agama.

“Kami sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu acara ini sehingga bisa terlaksana, terkhusus pengurus Mushalla As-Syifa Desa Muara Wahau yang sudah berkenan bekerjasama untuk melaksanakan peringatan 1 muharram di mushalla ini, dan beraharap kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakam lebih besar dan meriah, ujar “fahrozi” selaku ketua panitia.

“Yg terpenting dari kegiatan ini adalah kita mampu mengambil nilai dan hikmah dari hijrahnya nabi Muhammad SAW dari makkah ke madinnah. Nilai hijrah itu lah yang ingin kita sampaikan ke masyarakat, semoga kita dapat hijrah dari hal yang tidak baik menuju lebih baik”, kata fani selaku ketua Generasi Wahau.

sumber: HarianKutim.con

Penulis : Fani


IMG-20190824-WA0026.jpg

Agustus 26, 20190

Muara wahau, Jum’at 25 agustus 2019

Manajemen keuangan adalah ilmu yang dibutuhkan untuk mengatur bahkan mengontrol keuangan, pengetahuan terkait manajemen keuangan juga dibutuhkan oleh kaum muda saat ini atau yang sering kita sebut dengan kaum millenial, dengan mengetahui pengetahuan ini maka di harapkan kaum muda bisa bijak dalam mengatur keuangan pribadi bahkan memberikan pemahaman kepada keluarga. pelatihan yang di isi oleh seorang ahli dibidang manajemen dan perencanaan keuangan PT.DSN Group yaitu Bapak FX Ari Setiawan, CFP.

Generasi Wahau selenggarakan pelatihan manajemen keuangan dengan tema  “Cerdas Keuangan Aku Dan Uangku”. Acara yang didukung oleh pesantren Alkhairat ini, memberikan dukungan dalam bentuk penyediaan fasilitas salah satu gedung pesantren yang digunakan untuk kegiatan pelatihan.

acara yang dimulai sejak pukul 20.00 wita ini dihadiri sekitar 20 orang peserta dari berbagai latar belakang, dan di dikemas dengan suasana santai dan komunikatif sehingga terbentuk suasana yang penuh dengan keakraban dan fokus dalam menerima materi yang disampaiakan oleh narasumber. acara tersebut diakhiri dengan sesi tanya jawab dan ngobrol santai oleh audiens kepada narasumber.

“Harapannya kedepan kegiatan seperti ini bisa continue terlaksana dengan tema tema lain serta audiens yg lebih luas guna mengembangkan Sumber Daya Manusia pemuda pemudi desa Muara Wahau khususnya, serta masyarakat Desa Muara Wahau secara umum”. ucap salah seorang panitia penyelenggara. _(Fani Lestari)


IMG_20190819_105054-1280x1280.jpg

Agustus 19, 20190

Muara Wahau – 16 s/d 17 agustus 2019
Kemeriahan peringatan Hari Kemerdekaan RI tak hanya ramai di Perkotaan dan instansi pemerintahan ataupun swasta saja, di pusat Desa Muara Wahau tepatnya di kompleks Pondok Pesantren Alkhairaat dan lapangan sepak bola Muara Wahau. Di sana ratusan masyarakat dengan semangat dan bahagia mengikuti rangkaian kegiatan 17 Agustus 2019 kali ini. Mulai dari pelepasan lampion,perlombaan khas 17 agustusan hingga nonton bareng film sang kyai.

Rangkaian kegiatan pertama kemeriahan HUT RI – ke 74 ini di mulai sejak jum’at 16 agustus 2019, rangkaian tersebut di awali pelepasan lampion sebanyak 300 lampion, selain pelepasan lampion acara tersebut dimeriahkan juga dengan penampilan tarian-tarian daerah khas kalimantan timur dan penyerahan hadiah sepak bola kepada PERSEWA untuk pembinaan dalam bidang olahraga sebanyak lima belas juta yang diserahkan oleh kepala desa kepada ketua karang taruna

Rangkaian kegiatan kedua dilaksanakan pada sabtu 17 agustus 2019 setelah pelaksanaan upacara bendera dilaksanakan perlombaan khas 17 agustusan, sebanyak sembilan perlombaan yang diselenggarakan dalam kesempatan kali ini diantaranya : tarik tambang,kelereng,memasukan paku dalam botol,koin dalam tepung,koin dalam pepaya,menyalurkan air,panjat pinang dll.
Diantara kesembilan perlombaan yang paling menyita ratusan mata masyarakat yaitu panjat pinang. Semakin siang, terik matahari tak menghalangi banyak warga yang ingin menyaksikan langsung semangat para peserta lomba panjat pinang yang berebut hadiah di ujung batang pohon pinang yang dilumuri oli licin itu.

Riuh para penonton, iringan musik dengan suara penyemangat dan gelak tawa peserta saat itu bercampur. Peserta yang terdiri dari beberapa kelompok itu harus berjuang menaklukkan licinnya oli, bekerja sama menaiki satu persatu pundak timnya menuju puncak meski harus beberapa kali melorot dan melorot. Setiap tim saling adu strategi, memanfaatkan waktu masing-masing lima menit untuk menaklukkan pinang.
Namun satu kesimpulan dari keseluruhan lomba, antara peserta dan penonton semua larut dalam suka Cita siang menuju petang saat itu.

Rangkaian kegiatan ketiga dilaksanakan pada sabtu 17 agustus 2019 setelah isya, kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan puncak kemeriahan kemerdekaan HUT-RI Ke 74, dalam kegiatan puncak kali ini panitia menyajikan pembagian hadiah perlombaan dan nonton bareng film sang kyai.
Sajian nonton bareng film sang kyai yang mengilustrasikan perjuangan kemerdekaan RI tersebut bertujuan agar terciptanya tingkat kesadaran masyarakat dalam hal betapa besarnya peran para pahlawan,santri,ulama dan seluruh komponen dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Pesan lain yang ingin disampaikan dalam film tersebut bahwa patriotisme adalah bagian dari spiritual kita, itu salah satu perwujudan kita menjalankan perintah Tuhan, semua warga negara wajib membela tanah air kita agar jadi bangsa yang besar. (NRM)


IMG-20190814-WA0006.jpg

Agustus 19, 20190

Muara Wahau- Minggu,11 Agustus 2019

Idul Adha tahun ini Masjid Al Ijtihad Muara Wahau menerima Hewan Kurban sebanyak 7 ekor hewan sembelihan, Diantaranya 4 ekor sapi kurban berasal dari Bpk.elsuf,Ibu.Dahlia,Bpk.H.Mulyani dan PT.DSN.Group, dan sebanyak 3 ekor sapi kurban berasal dari Bpk.Dalmo,Bpk.Irwansyah dan PDAM Muara wahau.

Pelaksanaan penyembelihan di lakukan setelah pelaksanaan sholat idul adha yang berlangsung di rumah pemotongan hewan Masjid Al-Ijtihad dengan di saksikan oleh para Pemberi,Pengurus DKM,Panitia Penyelenggara Hewan Kurban beserta masyarakat setempat.

Tahun ini Masjid Al-Ijtihad telah menyebar kupon pembagian hewan Kurban sebanyak kurang lebih 450 kantong yang telah di sebarkan sebelum hari hari Raya Idul-Adha kepada masyarakat Desa Muara Wahau “ujar bapak asmarani ketua panitia penyembelihan hewan kurban tahun ini”.

Sejak dulu DKM Al-Ijtihad selalu rutin menyelenggarakan acara ini sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Kata ketua Dewan Kemakmuran Masjid Ustadz Amar Sidik saat di temui di sela-sela pemotongan hewan Kurban.(NRM)


053633600_1543325410-selain-berani-dan-suci-ini-makna-lain-dari-warna-merah-putih-bendera-kita.jpg

Agustus 17, 20190

Bendera Merah Putih Amanat Rasulullah
Melalui Mimpi habib idrus salim aljufri

KH Adnan Anwar mengatakan bahwa konsepsi NKRI sudah disiapkan para ulama jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal ini dibuktikan dengan salah satu dokumen tahun 1783 hasil batsul masail di Masjid Baiturahman Aceh yang isinya jika Nusantara ini menjadi negara, maka namanya adalah Al Jumhuriyah Al Indonesia.

Saya sudah melacak berbagai dokumen dari Aceh sampai Pattani Thailand, bahkan ke perpustakaan di Berlin menemui Profesor Bastian bahwa nama Indonesia baru ditemukan oleh Barat tahun 1892. Padahal nama Indonesia sudah ada pada tahun 1783 dan dibentuk oleh ulama-ulama di Aceh,” ungkapnya.

KH Adnan Anwar juga menambahkan bahwa NKRI sudah sangat islami karena bangunan dan konsepsi NKRI banyak ulama terlibat di dalamnya. “Habib Idrus Salim Al Jufri, pendiri Al Khairaat di Kota Palu (Sulawesi Tengah) yang juga adik kelas Hadratus syeikh KH. Hasyim Asyari pernah mengatakan bahwa beliau pernah bermimpi Nabi Muhammad SAW dan pesan dalam mimpi itu adalah nanti kalau Indonesia merdeka benderanya adalah Merah Putih,” tambahnya.

Bahkan Muktamar NU tahun 1937 atas pesan Habib Idrus Salim Aljufri, Hadratus syeikh KH. Hasyim Asyari mengusulkan bahwa bendera Indonesia adalah Merah Putih dan Soekarno adalah pemimpinnya. “Ulama-ulama kita sangat cinta NKRI.

Hadratus syeikh KH. Hasyim Asyari sering menangis ketika menyanyikan Indonesia Raya. Bahkan, pencipta lagu Padamu Negeri adalah habib atau ulama. Makanya jika ada yang ingin mengganti Indonesia dengan negara Islam atau khilafah, maka sesungguhnya mereka tidak belajar sejarah dan mengingkari perjuangan dari ulama-ulama Nusantara,”

Berdasarkan catatan, habib atau keturunan Rasulullah yang menciptakan lagu nasional adalah Habib Haji Muntahar. Tokoh dengan nama lengkap Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar ini menciptakan beberapa lagu nasional, di antaranya, Hari Merdeka, Hymne Indonesiaku dan Dirgahayu Indonesiaku.

Selain habib, ada juga lagu-lagu kebangsaan yang diciptakan oleh para kiai dari kalangan pesantren. Seperti misalnya, KH. Wahab Chasbullah menciptakan lagu kebangsaan Syubbanul Wathon (pemuda cinta tanah air) atau yang terkenal dengan sebutan Yaa Lal Wathon. Atau juga KH. R. Asnawi Kudus yang melahirkan syi’ir kemerdekaan yang masyhur di kalangan santri Kudus.

Berdasarkan data-data tersebut, tentu sudah jelas bahwa NKRI sangat islami karena pengkonsepnya adalah para ulama. Oleh karena itu, mari kita syukuri keberadaan NKRI sebagai sebuah negara kesatuan yang menyatukan berbagai suku bangsa. Jangan sampai warisan para ulama ini kita rusak. Para ulama sudah mewariskan, saatnya kita melestarikan.


Habib-Idrus-bin-Salim-al-Jufri-1068x601.jpg

Agustus 10, 20190

Tepat 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan negara kita dikumandangkan. Bangsa Indonesia meyakini bahwa kemerdekaan yang telah berhasil diraih adalah anugerah dari Allah SWT., di samping juga hasil dari buah perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan segenap jiwa dan raga.

Luapan kegembiraan pun menyeruak di seantero negeri tercinta saat itu. Ekspresi kegembiraan itu pun beragam bentuknya. Ada yang serentak meneriakkan takbir, ada yang menangis haru, dan lain sebagainya. Inti dari semua itu adalah rasa syukur yang besar kepada Dzat Pemberi Kemerdekaan ini yaitu Allah SWT.

Di antara ekspresi kegembiraan tersebut adalah terciptanya Syair Kemerdekaan Republik Indonesia yang ditulis oleh Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang dikenal pula dengan sebutan Guru Tua ketika merespon detik-detik proklamasi kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945 sebagaimana di bawah ini.

Syair Kemerdekaan

راية العز رفرفي في سمآء * أرضها وجبالها خضرآء

Raayatu al-‘Izzi rafrafii fi as-samaa’ * ardhihaa wa jibaalihaa khodroo’

Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa * daratan dan gunung-gunungnya hijau

إن يوم طلوعها يوم فخر * عظمته الأبآء والأبنآء

Inna Yauma Thuluu’ihaa Yaumu Fakhrin * ‘azhamathu al-aabaa’ wa al-anbaa’

Sungguh hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan * orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya

كل عام يكون لليوم ذكرى * يظهر الشكر فيها والثنآء

Kullu ‘Aamin li al-yaumi dzikraa * Yazhharu as-syukru fiihaa wa at-tsanaa’

Tiap tahun hari itu menjadi peringatan * muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya

كل أمة لها رمز عز * ورمز عزنا الحمراء والبيضآء

Kullu Ummatin lahaa ramzu ‘izzin * wa ramzu ‘izzinaa al-hamraa’ wa al-baydhoo’ 

Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan * dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih

يا سوكارنو حييت فينا سعيدا * بالدواء منك زال عنا الدآء

Yaa Sukarno Huyiyta fiinaa sa’iida ** bi ad-dawaa’ minka zaala ‘anna ad-daa’u

Wahai Sukarno! Engkau telah jadikan hidup kami bahagia * dengan obatmu telah hilang penyakit kami

أيها الرئيس المبارك فينا * عندك اليوم للورى الكميآء

ayyuhaa ar-ra’iis al-mubaaraku fiina * ‘indaka al-yauma li al-wara’ al-kamyaa’

Wahai Presiden yang penuh berkah untuk kami * engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat

باليراع وبالسياسة فقتم * ونصرتم بذا جائت الأنبآء

Baca Juga :  Jejak Islam di Dunia: Puasa di Kerala, Pintu Masuk Awal Islam di India

bi al-yaraa’ wa bi as-siyaasati fuqtum * wa nushirtum bidzaa jaa’at al-anbaa’

Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul * telah datang berita engkau menang dengannya

لا تبالوا بأنفس وبنين * في سبيل الأوطان نعم الفدآء

Laa Tubaaluu bi Anfusin wa Baniin * fi Sabiil al-Awthaani ni’ma al-fidaa’

Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak * demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu

خذ إلى الأمام للمعالي بأيدي * سبعين مليونا أنت والزعمآء

khudz ila al-amaam li al-ma’aali bi aydii * sab’iina milyuunan anta wa az-zu’amaa’

Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan * tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin

فستلقى من الرعايا قبولا * وسماعا لما تقوله الرؤسآء

fa satulqii min ar-ra’aayaa qabuula * wa samaa’an limaa taquuluhu ar-ru’asaa’

Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan * dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin

واعمروا للبلاد حسا ومعنى * وبرهنوا للملا أنكم أكفآء

wa’miruu li al-bilaadi hissan wa ma’nan * wa barhihuu li al-malaa annakum akiffaa’

Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual * buktikan kepada masyarakat bahwa kamu mampu

أيد الله ملككم وكفاكم * كل شر تحوكه الأعدآء

ayyada Allahu mulkakum wa kafaakum * kulla syarrin tahuukuhu al-a’daa’u

Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu * dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh seteru..


Screenshot_20190810-0604462.png

Agustus 10, 20190

Oleh : Kholili Kholil

“Wahai, Amirul Mukminin,” sapa seorang Yahudi kepada Umar bin Khattab, “Ada sebuah ayat dalam Alquran. Andai ayat itu diturunkan kepada kami (kaum Yahudi), pasti akan kami jadikan hari itu sebagai hari raya.”
“Ayat apakah itu?” tanya Umar.
“Al yauma akmaltu lakum dinakum.. (Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian..)”
“Kau benar. Hari itu sangat bersejarah .. aku masih ingat betul ayat itu diturunkan pada sore hari Arafah,” ujar Umar menerawang ingatan.
Percakapan yang diriwayatkan Ahmad bin Hanbal di atas adalah dialog antara Umar dengan seorang Yahudi yang kagum akan sebuah ayat di dalam Alquran: al-Maidah ayat 3—yakni ayat yang turun saat wukuf di Arafah. Arafah merujuk kepada nama hari, yakni tanggal sembilan Dzulhijjah. Sedangkan kataArafat, merujuk kepada nama tempat dilaksanakannya wukuf.
Baik Arafah maupun Arafat memang sangat fenomenal. Dua hal ini istimewa dalam Islam bukan hanya karena menjadi tempat dan waktu turunnya ‘ayat fikih’ terakhir di atas, namun juga karena tempat ini menjadi perhelatan sebuah ibadah “paling unik” dalam agama Islam: wukuf.
Bagaimana tidak unik, saat ibadah lain merepresentasikan kehambaan dengan cara bersujud, menahan lapar, atau menginfakkan harta, wukuf justru tidak diharuskan melakukan apapun kecuali berdiam diri di sekitar bukit granit yang berjarak dua puluh kilometer dari Mekkah. Berbeda dengan ritual lain, di sana seseorang tak diwajibkan melakukan apapun. Ia hanya harus duduk di situ. Makna wukuf, baik secara bahasa ataupun istilah, nyaris sama, berhenti atau diam.
Namun demikian, wukuf justru menjadi sentral ibadah haji. Sampai-sampai Nabi bersabda, “Wukuf adalah haji.” Hadis ini sama seperti hadis, “Taubat adalah penyesalan.” Artinya orang yang tidak menyesal tidak dikatakan bertaubat; orang yang tidak berwukuf maka hajinya tidak sah. Wukuf di Arafah adalah sesuatu yang penting.
Wukuf di Arafah ini juga adalah saat-saat keramat di mana Nabi saw menyampaikan orasi terkenalnya. Orasi itu dikenal dengan nama khuthbatul wada’: sebuah orasi perpisahan beliau. Orasi ini beliau sampaikan tepatnya dari atas Bukit Kasih Sayang (jabal rahmah).
Bukan hanya di masa Nabi Muhammad saja Arafat menjadi “keramat”. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa sejak masa bapak para nabi, yakni Ibrahim, Arafat sudah menjadi tempat istimewa. Di tempat ini Ibrahim diajari melaksanakan haji oleh Jibril. Saat diajari Jibril berhaji, Ibrahim berulang kali berkata: araftu .. araftu (aku paham .. aku paham). Jadilah tempat itu bernama Arafat.
Hari Arafah juga menjadi waktu di mana Ibrahim mengetahui kebenaran mimpinya. Di mimpi itu Ibrahim diperintahkan oleh Allah agar ia mengorbankan anaknya. Setelah ragu dan ‘mengangan-angan’, Ibrahim akhirnya yakin (arafa) bahwa perintah itu sungguh dari Tuhan.
Bahkan jika dirunut lebih jauh, tradisi oral dalam keilmuan Islam menyebut bahwa Arafat adalah tempat di mana Adam dan Hawa bertemu, tepatnya di Jabal Rahmah. Pertemuan ayah dan ibu umat manusia ini lantas diabadikan dalam nama arafat (perkenalan).
Sebenarnya jika dirunut secara bahasa, kata dasar ‘-r-f dalam buku-buku leksikografi (Lisanul Arab, misal) bermakna dasar sabar. Artinya tempat itu menjadi buah manis bagi kesabaran para nabi terdahulu (mulai dari pencarian Adam, pengorbanan Ibrahim, dan perjuangan Muhammad alaihimusholatu was salam).
Semua kisah para nabi di atas menunjukkan suatu pengorbanan yang menuntut mereka untuk sabar (arafa) dan Arafah selalu menjadi tempat balasan kesabaran mereka. Adam yang berpisah dengan Hawa—bertemu di Arafat. Ibrahim yang diuji mengorbankan anaknya—diganti kambing di Arafat. Perjuangan Nabi Muhammad saw yang melelahkan selama lebih dua puluh tahun—juga ditutup dengan ayat fikih terakhir di tempat itu.

 

 

 

 

 

KHOLILI KHOLIL

Alumni Pesantren Lirboyo-Kediri. Saat ini mengajar di Pesantren Cangaan Pasuruan, Jawa Timur.


KALIMANTAN TIMUR

INDONESIA

Jl. Mulawarman No. 1 RT.04 Desa Muara Wahau Kec.Muara Wahau. Kab. Kutai Timur
+6281-2919-67870

alkhairaatmuarawahau@gmail.com






LEBIH DEKAT

KEGIATAN KAMI

Terus Berkarya Untuk Bangsa.