8.00 - 18.00 (+62) 812-919-67870

Blog

Bring to the table win-win survival strategies to ensure proactive domination. At the end of the day, going forward, a new normal that has evolved from generation.
IMG_20210918_160838.jpg

September 18, 20210

Muara Wahau,Sabtu (18/09/21)
Telah dilaksanakan penyaluran bantuan berupa uang sebesar sepuluh juta rupiah yang dihimpun oleh KOMPAS (komunitas Karyawan Peduli Sesama) kepada Pondok Pesantren Alkhairaat Muara Wahau.

Komunitas yang beranggotakan karyawan perusahaan PT. DSN Group ini konsen dalam kegiatan sosial.

“Diharapkan bantuan ini dapat membantu operasioanal dan kebutuhan Pondok Pesantren, juga harapan kami bantuan ini dapat berlanjut setiap bulannya”,ujar Bapak Mulyadi selaku Penanggung jawab KOMPAS”.

Bantuan yang didistribusikan melalui KOMPAS ini mendapatkan sambutan hangat dari para ustad pondok pesantren. Karena pada saat ini sedang berlangsung proses pembangunan asrama putri yang kemudian bantuan tersebut juga bisa dipergunakan menyelesaikan proses pembangunan.


IMG_20210427_013044.jpg

April 26, 20210

Tidak terasa sampai dengan hari ini umat islam menjalankan ibadah puasa sudah dihari ke-15. Artinya kita sudah separuh jalan menunaikan ibadah puasa dibulan ramadhan. Tidak lama lagi ramadhan pun akan meninggalkan kita semua. Mumpung masih di bulan ramadhan, mari perbanyaklah ibadah semoga kita mendapatkan keutamaan demi keutamaan dibulan yang penuh berkah.

Menjelang separuh akhir ramadhan seperti biasa tradisi yang berakar dimasyarakat, Ketika ibadah tarawih mereka membiasakan qunut di akhir shalat witir. Lantas bagaimana hukum membacanya? Simak penjelasannya dibawah ini.

Dalam bahasa Arab, kata “qunut” adalah derivasi dari verba “qanata” yang artinya tunduk. Kata ini mengalami perluasan makna hingga berarti juga berdiri lama, diam, taat, doa, dan khusyu. Qunut dalam arti asalnya, sejalan dengan firman Allah SWT, “Dan milik-Nya apa yang di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk.” (QS. al-Rum/30: 26).

Dalam Kitab Kasyifah al-Sajaa, Syaikh Nawawi Banten berpendapat bahwa qunut adalah salah satu bentuk dzikir tertentu yang mengandung doa dan pujian.

Syaikh Nawawi Banten menyebut juga ada tiga jenis qunut. Pertama, Qunut shalat subuh. Kedua, Qunut shalat Witir di pertengahan terakhir bulan ramadhan.

Membaca qunut pada akhir shalat witir bukanlah sesuatu hal yang baru. Kebiasaan ini sudah berlangsung cukup lama yakni sejak masa sahabat nabi sampai dengan sekarang. Dikisahkan bahwa Ubay Ibn Ka’ab, Umar Ibn Khatab, dan beberapa sahabat lainnya membaca qunut di akhir shalat witir setelah separuh Ramadhan.

Sebab itu, Imam al-Nawawi dalam al-Adzkar menjelaskan:

ويستحب القنوت عندنا في النصف الأخير من شهر رمضان في الركعة الأخيرة من الوتر، ولنا وجه: أن يقنت فيها في جميع شهر رمضان، ووجه ثالث: في جميع السنة، وهو مذهبُ أبي حنيفة، والمعروف من مذهبنا هو الأوّل

“Menurut kami, disunnahkan qunut di akhir witir pada separuh akhir Ramadhan. Ada juga dari kalangan kami (Syafi’iyyah) yang berpendapat, disunnah qunut di sepanjang ramadhan. Kemudian ada pula yang berpendapat bahwa disunnahkan qunut di seluruh shalat sunnah. Ini menurut Madzhab Abu Hanifah. Namun yang baik menurut madzhab kami adalah model yang pertama, yaitu qunut pada separuh akhir ramadhan.”

Dalam pandangan Imam al-Nawawi, disunnahkan qunut di akhir shalat witir pada separuh akhir ramadhan. Meskipun menurut sebagian pendapat ada yang membolehkan qunut sepanjang ramadhan, namun pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i adalah qunut dikhususkan pada separuh akhir ramadhan. Wallahu a’lam. (Habibiy)

sumber : https://www.almiftah.id/2020/05/hukum-membaca-qunut-witir-setelah.html?m=1


IMG-20200512-WA0032-1280x960.jpg

Juni 4, 20200

Alkhairaat Wahau

Masa pandemi Covid-19 telah mengubah beragam aktivitas masyarakat yang lazim dilakukan sebelum pandemi. Begitu juga di lingkungan pesantren. Berbagai proses pembelajaran harus dilakukan dari jarak jauh karena pesantren ‘terpaksa’ harus memulangkan para santrinya.

Di Pondok Pesantren Alkhairaat, Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur, misalnya, terhitung kurang lebih sudah satu bulan lebih para santri telah dipulangkan. Hal ini dilakukan pesantren karena ada kekhawatiran akan wabah Covid-19 kian meluas hingga merambah ke pesantren.

Namun, di balik libur panjang santri, sesungguhnya mereka sudah rindu akan aktivitas-aktivitas di pesantrennya. mereka ingin segera bisa kembali ke pesantren bertemu dengan pengasuh, ustaz, teman-temannya, dan mengikuti kegiatan-kegiatan pesantren seperti ngaji, sekolah, dan seterusnya.

“Kami rindu ingin kembali ke pondok, sangat ingin berkumpul kembali dengan teman-teman santri ngaji dan belajar bareng,” kata salah seorang santri, Fathur kepada kami.

Santri asal Muara Wahau, ini adalah salah satu santri sekaligus pengurus pondok yang bertugas melayani para santri. Karena itu, selama di pondok ia lebih banyak berinteraksi langsung dengan para santri. Misalnya menyampaikan amanah pengasuh untuk kemudian disampaikan kepada santri, mengkoordinir santri saat tiba jadwal mengaji, dan sebagainya.

“Di sisi lain saya sebagai anak ndalem dan pengurus pondok yang terbiasa melayani anak-anak santri rindu akan candaan dan kebersamaannya,” ujar Fathur sapaan akrabnya.   Selama di rumah, ia mengaku waktunya banyak digunakan untuk membaca buku, ngaji Al-Qur’an, dan membantu orang tua. Ia berupaya memanfaatkan waktu liburnya dengan sebaik mungkin. “Kegiatan sehari-hari saya biasannya membantu orang tua baik dari nyuci baju bersih-bersih, nderes buku dan Al-Qur’an,” ucapnya.

Sementara itu, Pengurus Pesantren Muhammad Nuri, Syafiuddin mengemukakan, pihak pesantren belakangan ini sudah mengeluarkan surat edaran (SE) terkait waktu kembalinya santri ke pondok. Prinsipnya, kata dia, santri harus dipastikan bebas dari Covid-19 sebelum kembali ke pesantren.   “Menurut edarannya tanggal 10 Juni kembali dan tanggal 11 Juni memulai ajaran baru,” tuturnya.


IMG-20191123-WA0119-1280x588.jpg

November 24, 20190

Muara Wahau, sabtu 23 November 2019

Gemuruh untaian sholawat dan pujian di malam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H. yang diselenggarkan oleh Masjid Al Ijtihad dihadiri oleh tokoh agama,tokoh adat,tokoh pemuda, KAPOLSEK, Kepala Desa dan seluruh masyarakat Muara Wahau.

kegiatan yang di awali dengan pembacaan maulid simthud duror dan untaian sholawat yang dipimpin oleh tim hadroh Pondok Pesantren Alkhairaat Muara Wahau, melengkapi kemeriahan kegiatan tersebut.

dalam kesempatan tersebut ketua panitia sekaligus imam masjid Ust.Amar Sidiq menyampaikan dalam sambutannya,” agar senantiasa bersholawat kepada baginda rosul Muhammad SAW, dan implementasi bentuk kecintaan kita terhadap nabi Muhammad SAW salah satunya dengan cara menerapkan prilakunya dalam kehidupan sosial bermasyarakat agar terciptanya masyarakat yang madani.

puncak acara diisi dengan tausiyah hikmah maulid nabi Muhammad SAW, yang disampaikan oleh KH.Abdus Syukur Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Tenggarong-Kutai Kartanegara.

Dalam tausyiahnya menyampaikan,” bahwa kondisi masyarakat arab sebelum diutusnya nabi Muhammad SAW dalam kondisi jahiliyyah, jaman tersebut merupakan jaman yang tidak memiliki akhlak dan peradaban. maka setelah di utusnya nabi Muhammad SAW masyarakat arab menjadi masyarakat yang memiliki peradaban dan penghargaan terhadap sesama, itu karenanya nabi muhammad SAW di utus oleh alloh SWT selain untuk menyampaikan risalah dan penyempurna agama,juga untuk memperbaiki akhlak manusia dan menebar rahmat dan kasih sayang bagi semesta alam”. juga beliau menekankan kepada jama’ah, agar menjadi pribadi yang selalu memberikan rahmat dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga maupun lingkungan masyarakatnya.

“NRM_Khodimul Ma’had Alkhairaat”


FB_IMG_1568646794155.jpg

September 18, 20190

ALKHAIRAAT WAHAU – Musholla As-Syifa gandeng Pesantren Al-Khairaat dan Pemuda Generasi Wahau memperingati tahun baru Islam 1441 H bertempat di halaman Musholla As-Syifa pada hari senin, 16 September 2019.

Kegiatan ini sekaligus di rangai dengan rutinan salapanan majelis ta’lim Ahbabul Mukhtar binaan Al Habib Muhammad Bagir Syuriah PCNU Kutai Timur di Musholla As-Syifa Desa Muara Wahau Senin malam.

Acara ini dimulai dengan pembacaan maulid simtudurror bersama Al habib Muhammad Bagir bin Agil.

Ketua panitia Santoni Efendi, S.H.I dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan peringatan tahun baru islam ini bertujuan untuk syiar islam dan menggugah kembali semangat beragama di muara wahau, sekaligus menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum untuk evaluasi diri agar kedepan lebih baik.

mewakili rekan-rekan pemuda generasi wahau, fani lestari menyampaikan dengan sangat antusias tentang peranan Pemuda.
“Sejarah telah mencatat, pemuda adalah tongak estafet kepemimpinan selanjutnya, maka hari ini Pemuda harus berani serta percaya diri untuk membuat kebaikan-kebaikan disekitarnya”, ucap fani selaku perwakilan generasi wahau

“Ayo bangun desa kita ini bersama-sama dengan ilmu dan agama”, tegas fani.

Kiai Muhammad Imam Syafi’i MPd Dalam ceramah agamanya mengajak seluruh hadirin bisa Istiqomah membaca Al Qur’an dan wajib menjaga sholat 5 waktunya.

“Pemuda atau jama’ah sekalian, untuk menjadi hebat, sukses dan berhasil dunia InsyaAllah sampai akhirat plus tiket VIP ke surga jadilah ahli Qur’an dan jaga selalu sholat fardhu”, ujar kiai Muhammad.

Turut hadir dalam memperingati tahun baru Islam 1441 H diantaranya Polsek, danramil, camat, pemerintah desa Muara Wahau, pimpinan pondok pesantren alkhairaat, komunitas pemuda, Ansor Banser muara Wahau-Kongbeng Lazisnu dan LDNU serta seluruh masyarakat. (Hk)


IMG-20190901-WA0054-1280x960.jpg

September 2, 20190

Muara Wahau_ sabtu, 31 Agustus 2019

Sudah menjadi budaya seluruh penjuru Indonesia, saat memasuki 1 muharram diselenggarakan pengajian ataupun kegiatan lainnya dengan tujuan mengambil hikmah dan momentun meng evaluasi diri terhadap apa yang telah dilakukan satu tahun kebelakang sambil menata niat untuk mengarungi kehidupan yang lebih baik di tahun yang akan datang.

Pemuda-pemudi Desa Muara Wahau yang terhimpun dalam Generasi Wahau bekerjasama dengan DKM Musholla As-Syifa selenggarakan pengajian 1 Muharram 1441 Hijriyah”.

kegaiatan yang berlangsung sejak pukul 20.00 hingga 22.00 ini di hadiri oleh masyarakat dan pemuda/i desa muara wahau.

Rangkaian acara dibuka oleh tim hadroh Pondok Pesantren AlKhairaat Desa Muara Wahau dan dilanjut sambutan oleh ketua panitia, serta ketua Generasi Wahau dan disusul oleh sambutan ketua Mushalla As-Syifa.

puncak kegiatan di isi dengan tausiyah oleh Ust. Amar Siddiq dan ditutup dengan Doa oleh Ust. Nizar, dalam tausiyahnya ustadz amar menyampaikan ” kegiatan peringatan 1 muharram Ini merupakan kali pertama yang dilaksanakan di Desa Muara Wahau selama 20 tahun lebih saya berdomisili disini, Beliau sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini, karena masih muda sudah memikirkan umat dan turut serta mempersiapkan generasi muda mendatang yang memilki karakter berakhlak mulia dan peduli terhadap perjuangan agama.

“Kami sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu acara ini sehingga bisa terlaksana, terkhusus pengurus Mushalla As-Syifa Desa Muara Wahau yang sudah berkenan bekerjasama untuk melaksanakan peringatan 1 muharram di mushalla ini, dan beraharap kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakam lebih besar dan meriah, ujar “fahrozi” selaku ketua panitia.

“Yg terpenting dari kegiatan ini adalah kita mampu mengambil nilai dan hikmah dari hijrahnya nabi Muhammad SAW dari makkah ke madinnah. Nilai hijrah itu lah yang ingin kita sampaikan ke masyarakat, semoga kita dapat hijrah dari hal yang tidak baik menuju lebih baik”, kata fani selaku ketua Generasi Wahau.

sumber: HarianKutim.con

Penulis : Fani


IMG-20190824-WA0026.jpg

Agustus 26, 20190

Muara wahau, Jum’at 25 agustus 2019

Manajemen keuangan adalah ilmu yang dibutuhkan untuk mengatur bahkan mengontrol keuangan, pengetahuan terkait manajemen keuangan juga dibutuhkan oleh kaum muda saat ini atau yang sering kita sebut dengan kaum millenial, dengan mengetahui pengetahuan ini maka di harapkan kaum muda bisa bijak dalam mengatur keuangan pribadi bahkan memberikan pemahaman kepada keluarga. pelatihan yang di isi oleh seorang ahli dibidang manajemen dan perencanaan keuangan PT.DSN Group yaitu Bapak FX Ari Setiawan, CFP.

Generasi Wahau selenggarakan pelatihan manajemen keuangan dengan tema  “Cerdas Keuangan Aku Dan Uangku”. Acara yang didukung oleh pesantren Alkhairat ini, memberikan dukungan dalam bentuk penyediaan fasilitas salah satu gedung pesantren yang digunakan untuk kegiatan pelatihan.

acara yang dimulai sejak pukul 20.00 wita ini dihadiri sekitar 20 orang peserta dari berbagai latar belakang, dan di dikemas dengan suasana santai dan komunikatif sehingga terbentuk suasana yang penuh dengan keakraban dan fokus dalam menerima materi yang disampaiakan oleh narasumber. acara tersebut diakhiri dengan sesi tanya jawab dan ngobrol santai oleh audiens kepada narasumber.

“Harapannya kedepan kegiatan seperti ini bisa continue terlaksana dengan tema tema lain serta audiens yg lebih luas guna mengembangkan Sumber Daya Manusia pemuda pemudi desa Muara Wahau khususnya, serta masyarakat Desa Muara Wahau secara umum”. ucap salah seorang panitia penyelenggara. _(Fani Lestari)


IMG_20190819_105054-1280x1280.jpg

Agustus 19, 20190

Muara Wahau – 16 s/d 17 agustus 2019
Kemeriahan peringatan Hari Kemerdekaan RI tak hanya ramai di Perkotaan dan instansi pemerintahan ataupun swasta saja, di pusat Desa Muara Wahau tepatnya di kompleks Pondok Pesantren Alkhairaat dan lapangan sepak bola Muara Wahau. Di sana ratusan masyarakat dengan semangat dan bahagia mengikuti rangkaian kegiatan 17 Agustus 2019 kali ini. Mulai dari pelepasan lampion,perlombaan khas 17 agustusan hingga nonton bareng film sang kyai.

Rangkaian kegiatan pertama kemeriahan HUT RI – ke 74 ini di mulai sejak jum’at 16 agustus 2019, rangkaian tersebut di awali pelepasan lampion sebanyak 300 lampion, selain pelepasan lampion acara tersebut dimeriahkan juga dengan penampilan tarian-tarian daerah khas kalimantan timur dan penyerahan hadiah sepak bola kepada PERSEWA untuk pembinaan dalam bidang olahraga sebanyak lima belas juta yang diserahkan oleh kepala desa kepada ketua karang taruna

Rangkaian kegiatan kedua dilaksanakan pada sabtu 17 agustus 2019 setelah pelaksanaan upacara bendera dilaksanakan perlombaan khas 17 agustusan, sebanyak sembilan perlombaan yang diselenggarakan dalam kesempatan kali ini diantaranya : tarik tambang,kelereng,memasukan paku dalam botol,koin dalam tepung,koin dalam pepaya,menyalurkan air,panjat pinang dll.
Diantara kesembilan perlombaan yang paling menyita ratusan mata masyarakat yaitu panjat pinang. Semakin siang, terik matahari tak menghalangi banyak warga yang ingin menyaksikan langsung semangat para peserta lomba panjat pinang yang berebut hadiah di ujung batang pohon pinang yang dilumuri oli licin itu.

Riuh para penonton, iringan musik dengan suara penyemangat dan gelak tawa peserta saat itu bercampur. Peserta yang terdiri dari beberapa kelompok itu harus berjuang menaklukkan licinnya oli, bekerja sama menaiki satu persatu pundak timnya menuju puncak meski harus beberapa kali melorot dan melorot. Setiap tim saling adu strategi, memanfaatkan waktu masing-masing lima menit untuk menaklukkan pinang.
Namun satu kesimpulan dari keseluruhan lomba, antara peserta dan penonton semua larut dalam suka Cita siang menuju petang saat itu.

Rangkaian kegiatan ketiga dilaksanakan pada sabtu 17 agustus 2019 setelah isya, kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan puncak kemeriahan kemerdekaan HUT-RI Ke 74, dalam kegiatan puncak kali ini panitia menyajikan pembagian hadiah perlombaan dan nonton bareng film sang kyai.
Sajian nonton bareng film sang kyai yang mengilustrasikan perjuangan kemerdekaan RI tersebut bertujuan agar terciptanya tingkat kesadaran masyarakat dalam hal betapa besarnya peran para pahlawan,santri,ulama dan seluruh komponen dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Pesan lain yang ingin disampaikan dalam film tersebut bahwa patriotisme adalah bagian dari spiritual kita, itu salah satu perwujudan kita menjalankan perintah Tuhan, semua warga negara wajib membela tanah air kita agar jadi bangsa yang besar. (NRM)


IMG-20190814-WA0006.jpg

Agustus 19, 20190

Muara Wahau- Minggu,11 Agustus 2019

Idul Adha tahun ini Masjid Al Ijtihad Muara Wahau menerima Hewan Kurban sebanyak 7 ekor hewan sembelihan, Diantaranya 4 ekor sapi kurban berasal dari Bpk.elsuf,Ibu.Dahlia,Bpk.H.Mulyani dan PT.DSN.Group, dan sebanyak 3 ekor sapi kurban berasal dari Bpk.Dalmo,Bpk.Irwansyah dan PDAM Muara wahau.

Pelaksanaan penyembelihan di lakukan setelah pelaksanaan sholat idul adha yang berlangsung di rumah pemotongan hewan Masjid Al-Ijtihad dengan di saksikan oleh para Pemberi,Pengurus DKM,Panitia Penyelenggara Hewan Kurban beserta masyarakat setempat.

Tahun ini Masjid Al-Ijtihad telah menyebar kupon pembagian hewan Kurban sebanyak kurang lebih 450 kantong yang telah di sebarkan sebelum hari hari Raya Idul-Adha kepada masyarakat Desa Muara Wahau “ujar bapak asmarani ketua panitia penyembelihan hewan kurban tahun ini”.

Sejak dulu DKM Al-Ijtihad selalu rutin menyelenggarakan acara ini sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Kata ketua Dewan Kemakmuran Masjid Ustadz Amar Sidik saat di temui di sela-sela pemotongan hewan Kurban.(NRM)


053633600_1543325410-selain-berani-dan-suci-ini-makna-lain-dari-warna-merah-putih-bendera-kita.jpg

Agustus 17, 20190

Bendera Merah Putih Amanat Rasulullah
Melalui Mimpi habib idrus salim aljufri

KH Adnan Anwar mengatakan bahwa konsepsi NKRI sudah disiapkan para ulama jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal ini dibuktikan dengan salah satu dokumen tahun 1783 hasil batsul masail di Masjid Baiturahman Aceh yang isinya jika Nusantara ini menjadi negara, maka namanya adalah Al Jumhuriyah Al Indonesia.

Saya sudah melacak berbagai dokumen dari Aceh sampai Pattani Thailand, bahkan ke perpustakaan di Berlin menemui Profesor Bastian bahwa nama Indonesia baru ditemukan oleh Barat tahun 1892. Padahal nama Indonesia sudah ada pada tahun 1783 dan dibentuk oleh ulama-ulama di Aceh,” ungkapnya.

KH Adnan Anwar juga menambahkan bahwa NKRI sudah sangat islami karena bangunan dan konsepsi NKRI banyak ulama terlibat di dalamnya. “Habib Idrus Salim Al Jufri, pendiri Al Khairaat di Kota Palu (Sulawesi Tengah) yang juga adik kelas Hadratus syeikh KH. Hasyim Asyari pernah mengatakan bahwa beliau pernah bermimpi Nabi Muhammad SAW dan pesan dalam mimpi itu adalah nanti kalau Indonesia merdeka benderanya adalah Merah Putih,” tambahnya.

Bahkan Muktamar NU tahun 1937 atas pesan Habib Idrus Salim Aljufri, Hadratus syeikh KH. Hasyim Asyari mengusulkan bahwa bendera Indonesia adalah Merah Putih dan Soekarno adalah pemimpinnya. “Ulama-ulama kita sangat cinta NKRI.

Hadratus syeikh KH. Hasyim Asyari sering menangis ketika menyanyikan Indonesia Raya. Bahkan, pencipta lagu Padamu Negeri adalah habib atau ulama. Makanya jika ada yang ingin mengganti Indonesia dengan negara Islam atau khilafah, maka sesungguhnya mereka tidak belajar sejarah dan mengingkari perjuangan dari ulama-ulama Nusantara,”

Berdasarkan catatan, habib atau keturunan Rasulullah yang menciptakan lagu nasional adalah Habib Haji Muntahar. Tokoh dengan nama lengkap Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar ini menciptakan beberapa lagu nasional, di antaranya, Hari Merdeka, Hymne Indonesiaku dan Dirgahayu Indonesiaku.

Selain habib, ada juga lagu-lagu kebangsaan yang diciptakan oleh para kiai dari kalangan pesantren. Seperti misalnya, KH. Wahab Chasbullah menciptakan lagu kebangsaan Syubbanul Wathon (pemuda cinta tanah air) atau yang terkenal dengan sebutan Yaa Lal Wathon. Atau juga KH. R. Asnawi Kudus yang melahirkan syi’ir kemerdekaan yang masyhur di kalangan santri Kudus.

Berdasarkan data-data tersebut, tentu sudah jelas bahwa NKRI sangat islami karena pengkonsepnya adalah para ulama. Oleh karena itu, mari kita syukuri keberadaan NKRI sebagai sebuah negara kesatuan yang menyatukan berbagai suku bangsa. Jangan sampai warisan para ulama ini kita rusak. Para ulama sudah mewariskan, saatnya kita melestarikan.


KALIMANTAN TIMUR

INDONESIA

Jl. Mulawarman No. 1 RT.04 Desa Muara Wahau Kec.Muara Wahau. Kab. Kutai Timur
+6281-2919-67870

alkhairaatmuarawahau@gmail.com






LEBIH DEKAT

KEGIATAN KAMI

Terus Berkarya Untuk Bangsa.